BadkoSerut Membangun Kader :

"Rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan Rijalul 'amal (orang yang pandai bekerja) dan Rijalul 'amal tidak sama dengan Rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Kemudian Rijalul jihad pun tidaklah sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yakni orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil"

Kader dakwah menyeru masyarakat dengan seruan pujangga Ar Rofi'i:

"Jangan kacau--------> di sini ketertiban" "Jangan menyimpang--------> di sini jalan yang lurus" "Jangan mundur-----> di sini saya menyeru" Tak ada sesuatupun yang dapat memperbudak kalian selama teriakanmu: Allahu Akbar...!!!

Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi Iman

Konsisten di atas al-Haq sampai mati adalah sesuatu yang sangat berat, sehingga Rasul sering berdo'a dengan do'a ini: "Ya Allah yang memutar balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di jalan agamaMu."

Tanda Cinta Kepada Allah :

"Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah-tambahlah iman mereka dan mereka selalu bertawakkal (berserah diri) kepada Rabb mereka." (QS. 8:2).

QS. At Taubah ayat 11,

"Sesungguhnya Allah telal membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar."

Showing posts with label Buletin. Show all posts
Showing posts with label Buletin. Show all posts

Friday, March 31, 2017

TEKNIK MARKETING LANGIT YANG BISA MENGAKIBATKAN SESEORANG BISA KEBANJIRAN ORDER DALAM WAKTU SINGKAT

TEKNIK MARKETING LANGIT YANG BISA MENGAKIBATKAN SESEORANG BISA KEBANJIRAN ORDER DALAM WAKTU SINGKAT

Saya beberapa kali bertemu dan belajar dengan para pengusaha-pengusaha yang omsetnya sudah milyaran per bulan bahkan perhari dan perusahaanya selalu mengalami kebanjiran order.

Ketika saya belajar dengan mereka, saya sangat terkejut sekali ketika sudah membahas soal Markeing Langit...

Ternyata para pengusaha tersebut yang omsetnya bisa milyaran per bulan, mereka bisa mendapatkan omset segitu karna mereka mempraktekan ilmu marketing langit terlebih dahulu sebelum mempraktekan ilmu marketing bumi

Apakah Anda sudah tau Marketing Langit itu apa?

Marketing Langit itu adalah usaha-usaha yang kita lakukan selain dengan ilmu-ilmu dunia (Ilmu Marketing, Ilmu Closing, Dll )

Lalu Contoh dari Marketing Langit itu apa saja?

1. Ketaatan para istri kepada suaminya
2. Melaksanakan Ibadah Solat wajib tepat waktu
3. Melaksanakan ibadah solat sunnah (Dhuha & Tahajud)
4. Sedekah Setiap Hari
5. Berbakti kepada orang tua
dan
6. Bersilaturahim

Nahh, kebanyakan dari anda mungkin ada yang lebih memikirkan urusan marketing dunia daripada marketing langit saat ini.

Sekarang coba anda renungkan "Sebenernya anda berbisnis saat ini hanya untuk mengejar urusan dunia saja atau anda berbisnis untuk mengejar urusan akhirat?"

Jika anda dalam berbisnis hanya mengejar urusan dunia pantaslah anda mengalami hal-hal seperti ini :

1. Closing sedikit anda marah-marah
2. Ketika anda berbisnis yang penting untung banyak, masalah produk bermanfaat atau tidak saya tidak mau tau
3. Marah-marah di sosial media ketika di php-
in customer
4. Maksa-maksa customer untuk cepat-cepat transfer dan beli produk yang kita jual
5. Jengkel pada upline yang ga bisa bimbing
6. Jengkel pada member jika mereka ga aktif
7. Anda terobsesi pengen cepat kaya dalam waktu singkat sehingga dalam berbisnis anda tidak ingin tau ini bisnis atau haram

Jika anda dalam berbisnis seperti itu naudzubilah, Sesungguhnya urusan dunia itu hanyalah tipuan belaka, dan sesungguhnya kehidupan akhirat itulah yang akan kekal.

Percayalah jika anda berbisnis hanya terobsesi dalam urusan uang/dunia saja saja maka :

1. sebanyak apapun anda mempunyai harta maka anda tidak akan pernah merasa cukup.
2. Walaupun Anda mempunyai harta ratusan juta maka hatimu akan mengalami kegelisahan yang terus menerus seolah-olah hidup ini tidak ada artinya
3. Anda akan semakin jauh dari pertolongan Allah Ta'ala
4. Anda akan semakin jauh dari apa yang yang diperintah Allah Ta'ala dan Rasulnya.

Apalagi jika anda dalam berbisnis sudah mengabaikan urusan halal dan haram.

Janganlah kamu berpikir bahwa "Cari uang yang haram aja susah apalagi yang halal"

Sungguh cara berpikir orang demikian adalah cara berpikir orang-orang bodoh.

Rejeki Allah Itu Luas dan Rejeki yang halal pun masih banyak di dunia ini tapi kenapa anda masih mencari nafkah/harta dari jalur yang haram.

Apakah Anda tidak kasihan dengan anak dan pasangan anda, mereka di kasih makan dari jalur yang haram.
Jika anak anda di beri makan dari jalur yang haram, maka mau jadi apa nantinya anak anda?

Jika anda dalam mencari rejeki dari jalur yang haram maka anda akan mengalami hal-hal seperti ini :

1. Keluarga berantakan
2. Anak kurang ajar dan tidak mau nurut sama orang tuanya
3. Suasana rumah terasa seperti neraka dan merasa sudah tidak ada lagi ketenangan di rumah
4. Anda mencari kesenangan kesenangan dunia agar hati anda tenang tetapi justru yang di dapat malah hati anda akan semakin gelisah

Jika anda berbisnis sudah mengalami hal hal seperti ini maka "Segeralah bertaubat" dan luruskan niat anda dalam berbisnis.

Bukankah anda sudah sering mendengar perkataan seperti ini "BISNIS ITU BUKAN MASALAH UNTUNG RUGI TETAPI MASALAH SURGA DAN NERAKA"

Memanglah demikian, Berbisnis itu bisa mengakibatkan seseorang masuk surga dan bisa mengakibatkan seseorang masuk neraka.

Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya susah menjadi sangat kaya raya

Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya kaya raya menjadi miskin sekali

Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya rajin beribadah menjadi lalai dalam beribadah.

Dan juga...

Bisnis itu bisa mengakibatkan seseorang yang tadinya lalai dalam beribadah setelah berbisnis justru malah semakin dekat dan rajin dalam beribadah.

Kembali Lagi ke teknik marketing langit.
Sebelum anda belajar marketing dunia sebaiknya anda perbaiki dulu marketing langitnya, agar apa?

Agar percepatan bisnis anda meningkatkan jauh lebih cepat.

Mulai sekarang coba :

1. Perbaiki Hubungan antara anda dan suami anda. Rejeki suami itu tergantung pada istrinya. Jika istrinya semakin solehah maka rejeki suami dan keluarganya akan di permudah.

Berikut 9 Ciri-Ciri Wanita Yang Akan Membawa Rezeki Buat Suaminya :
1. Wanita yang taat pada Allah dan rasulNya.
2. Wanita yang taat pada suaminya.
3. Wanita yang melayani suaminya dengan baik.
4. Wanita yang berhias hanya untuk suaminya.
5. Jika ditinggal menjaga kehormatan dan harta suami
6. Wanita yang senantiasa meminta ridha suami atasnya
7. Wanita yang menerima pemberian suami dengan ikhlas
8. Wanita yang bisa menjadi partner meraih ridha Allah.
9. Wanita yang tak pernah putus doa untuk suaminya.

2. Solat wajib dijalankan tepat waktu
Untuk perempuan lebih baik solat di rumah, jika ingin di masjid boleh asalkan dapat ijin dari suaminya.
Untuk Laki-laki di wajibkan untuk di masjid secara berjamaah

3. Melaksanakan ibadah solat sunnah ( Dhuha Dan Tahajud)
Kerjakan solat sunnah dhuha 6 -12 rakaat dan solat tahajud 11 rokaat jika rejeki anda ingin di lancarkan.
Jika anda ingin kaya dalam 40 hari lakukan solat sunnah ini dalam waktu 40 hari tanpa putus 1 hari pun. (Ilmu dari Mas Ippho dan gutunda ust.Yusuf Mansur)

4. Sedekah Setiap Hari
Sedekah itu lebih baik sedikit tapi tiap hari daripada banyak tapi cuman sekali.
Jauh lebih baik jika sedekahnya banyak dan tiap hari ��

Alhamdulilah saya pernah praktek ilmu sedekah ini hasilnya luar biasa.
Dulu saya praktek sedekah 20% dari penghasilan setiap hari saya  kehidupan saya jauh lebih baik.

Tapi jika anda masih pemula saya sarankan rutinkan asedekah 1000 setiap hari, dan jangan sampai putus dalam waktu 40 hari

5. Berbakti kepada orang tua
Jika anda sampai detik ini masih punya kedua orang tua muliakan mereka. Terutama ibu.
Ibumu itu keramat. Semakin kamu memuliakan ibumu, hidup anda akan jauh lebih baik daripada sekarang
Minta doa ke mereka agar urusan kehidupan anda selalu di permudah.

6. Silaturahim
Mulai sekarang anda seringkan silaturahim ke orang-orang entah itu di dunia online atau offline tujuannya adalah menjalin rasa kekeluargaan.
Jangan sampai anda silaturahim cuman pas ada butuhnya doang.

Ingat,

"SEBELUM ANDA MENJALANKAN STRATEGI MARKETING BUMI, ANDA JALANKAN DULU STRATEGI MARKETING LANGIT"

Karna sebaik apapun rencana anda tidak akan bakal terwujud jika Allah Ta'ala tidak meridhoi.

"DALAM HAL APAPUN BIASAKAN MENGGUNAKAN PRINSIP : ALLAH DULU, ALLAH LAGI, DAN ALLAH TERUS"

Karna semua yang ada di dunia ini sudah di atur sama Allah Ta'ala. Anda minta mobil mintanya ke Allah, Anda pengen umroh di bulan maret mintanya ke Allah, Anda pengen banjir order mintanya ke Allah Juga.

"BERSUYUKURLAH APA YANG SUDAH ANDA MILIKI"

Sebelum anda menerima rejeki yang lebih banyak lagi lebih baik anda bersykur terlebih dahulu. Perbesar wadahnya, Dan Pantaskan diri terlebih dahulu jika anda ingin minta rejeki yang lebih banyak.

Jangan sampai anda Lalai dari urusan akhirat karna urusan-urusan dunia.
Sungguh URUSAN DUNIA ITU MENIPU.

Ada banyak ayat yang bercerita bahwa urusan akhirat jauh lebih baik daripada urusan dunia :

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini, selain dari main-main dan senda gurau belaka. Dan sungguh kampung akhirat itu lebih baik bagi orang-orang yang bertakwa. Maka tidakkah kamu memahaminya?” (QS Al-An’aam ayat 32)

“Dan tiadalah kehidupan dunia ini melainkan senda gurau dan main-main.
Dan sesungguhnya akhirat itulah yang sebenarnya kehidupan, kalau mereka mengetahui” (QS Al-Ankabut 6)

Semoga Bermanfaat.

-Bari Purnomo, Eco Racer-

Tuesday, March 28, 2017

JANGAN MALU BERDAKWAH Akun Medsos-mu adalah saksi bagimu.

JANGAN MALU BERDAKWAH
Akun Medsos-mu adalah saksi bagimu.

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته
Saudaraku yg dirahmati Alloh swt,

Berdakwah adalah usaha untuk menyampaikan Ilmu dan kebenaran, serta Amar Ma'ruf - Nahi Munkar.

Kewajiban DAKWAH tidak hanya bagi para Ulama' dan Ustad. Tetapi setiap umat Islam dianjurkan berdakwah. Termasuk kita.

Sebagaimana sabda Rosululloh saw,

بلغوا عني ولو اية
" Sampaikanlah (sabdaku) walau hanya satu kalimat."

Alloh swt, berfirman:
ادع إلى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة

"Ajaklah mereka ke jalan Tuhanmu, dg hikmah dan nasihat yg baik.

Maka.....
Jadikanlah SOSIAL MEDIA ini sebagai sarana untuk DAKWAH.

CARANYA:
- Tulislah Artikel yg berisi ILMU dari sumber yg kalian miliki.

    ATAU.......

- MEMBAGIKAN status teman yg berisi ILMU  dan Nasihat.

Oleh karena itu, bila ada status teman yg BAIK,  jangan ragu untuk MEMBAGIKAN kepada teman atau akun pribadi.

Dengan cara tersebut, kita akan mendapatkan bagian kebaikan dari apa yg kita lakukan.

Ingatlah.......!
Bahwa apa yang ada pada AKUN kita, baik TULISAN atau FOTO ,akan tetap ada walaupun kita telah mati. 

Rosululloh saw, bersabda:
من دل على خير فله أجره وأجر من عمل به
"Barang siapa yg menunjukkan jalan kebaikan, dia mendapatkan pahalanya dan pahala orang yang mengamalkannya."

Oleh karena itu,

Bila ilmu yg kita sampaikan itu bermanfaat bagi orang lain, atau diamalkannya, maka di alam KUBUR kita tetap mendapatkan bagian PAHALA.

MEDSOS kita akan menjadi SAKSI.

Semoga bermanfaat.

Saturday, March 25, 2017

*TRUE STORY* Kisah nyata penggugah jiwa.

*TRUE STORY*

Kisah nyata penggugah jiwa.

Inspiratorquran
-Inspirasi Menghafal Al-Qur'an-

Inspirasi 7⃣

Dulu sewaktu saya masih kecil, saya selalu mendapat peringkat 1 baik di tingkat SD, SMP, SMA

Semua merasa senang, ibu dan ayah pun selalu memeluk saya dengan bangga. Memeluk dan mencium saya. Keluarga sangat senang melihat anaknya yang pintar dan berprestasi.

Begitupun ketika aku masuk perguruan tinggi ternama, tanpa embel-embel test.

Orang tua ku bangga, teman-teman ku pun merasa bangga dengan diriku.

Tatkala aku menjalani masa kuliah IPK ku selalu 4 dan aku lulus dari perguruan tinggi yang bergengsi itu dengan predikat cumlaude.

Semua bahagia, para rektor menyalami ku dan merasa bangga memiliki mahasiswa seperti diriku, jangan kau tanya tentang orang tua ku, tentunya mereka orang yang paling bangga, bangga melihat anaknya lulus dengan predikat cum laude. Teman-temanku seperjuangan pun gembira, semua wajar memancarkan kebahagiaan.

Lulus dari perguruan tinggi kini ku memasuki perusahan bonafit. Karirku sangat melejit tinggi.

Semua pun merasa bangga dengan diriku, semua kolega-kolega bisnisku selalu menjabat tanganku, semua hormat dan menghargai diriku, teman-teman lama pun selalu menyebut namaku sebagai salah satu orang sukses. Semua orang puji saya.

Namun ketika saya berikrar untuk berjuang bersama barisan pembela rasulullah saw, dan ku buang segala title keduniaan ku, kutinggalkan dunia ku untuk mengejar akhirat dan ridhanya. Seketika itu pula dunia terasa berbalik. Yaa... Dunia seperti berbalik. Ku putuskan untuk merantau dan memilih mempelajari ilmu al-qur'an dan sunnah rasulullah saw, dan kuhafalkan Al-Qur'an 30 juz.

Semua orang mencemooh dan memaki diri saya. Tak ada lagi pujian, tak ada lagi senyum kebanggan, tak ada lagi peluk hangat. Yang ada hanyalah cacian.

Terkadang, orang memaki diriku, buat apa sekolah tinggi-tinggi kalau masuk pesantren.
Dia itu orang bodoh! Udah punya pekerjaan enak-enak ditinggalin.
Berbagai caci dan maki tertuju untuk diriku, bahkan dari keluarga yang tak jarang membuat diriku sedih.

"Apa ada lulusan perguruan tinggi terkenal masuk pondok tahfidz? Enggak sayang apa udah dapet kerja enak-enak? Mau makan dari mana?

Kata mereka..

Ya, pertanyaan-pertanyaan itu yang terus menyerang dan menyudutkan diriku.

Hingga suatu ketika..

Ketika fajar mulai muncul.

Aku ajak ibuku pergi untuk shalat berjamaah di masjid. Dimasjid tempat biasa aku menjadi imam.

Itu adalah shalat subuh yang akan selalu ku kenang.
Ku angkat tangan seraya mengucapkan takbir. " Allaaahuu akbaar" ku agungkan Allah dengan seagung-agungnya.

Ku baca iftitah dalam hati ku, berdesir rasanya.

Kulanjutkan membaca Al-Fatihah, ku lantunkan al-fatihah.

Bismillahirrahmaanirrahiiim, (sampai disini hati ku begetar) ku sebut namanya yang maha pengasih lagi maha penyayang terhadap hambanya.

Alhamdulillahirabbil alamiin... Ku panjatkan puji-pujian untuk rabb semesta alam..

Kulanjutkan bacaan lamat-lamat, ku hayati surah al-fatihah dengan seindah-indahnya tadabbur, tanpa terasa air mata jatuh membasahi wajahku.

Berat lidah ku untuk melanjutkan ayat, ar-rahmaanirrahiim, ku lanjutkan ayat dengan nada yang mulai bergetar..

Malikiyaumiddin, kali ini aku sudah tak kuasa menahan tangisku.

Iyyaka na'budu wa iyyaka nastaiin, yaa Allah hanya kepadamulah kami menyembah dan hanya kepadamulah kami meminta pertolongan. Hati ku terasa tercabik-cabik seringkali diri ini menuntut kepada Allah untuk memenuhi kebutuhan ku, tapi aku lalai menjalankan kewajiban-kewajiban ku kepada Allah.

Sampailah kepada akhir ayat dalam surah Al-Fatihah. Ku seka air mata ku, dan ku tenangkan sejenak diriku.

Selanjutnya subuh itu aku putuskan untuk membaca surah 'Abasa. Ku hanyut dalam bacaan ku, terasa syahdu, hingga terdengar isak tangis jamaah sesekali.
Bacaan terus mengalun, sehingga sampailah pada ayat 34.
Tangisku membuncah sejadi-jadinya.

Yauma yafirrul mar'u min akhii, wa ummihii wa abiih, wa shaahibatihi wa baniih, likullimriim minhum yauma idzin sya'nuy yughniih...

Tangisku pun membuncah, tak mampu ku lanjutkan ayat, tubuhku terasa lemas.

Hingga setelah shalat subuh selesai dalam perjalanan pulang. Ibuku menanyakan kepadaku, "mengapa kamu menangis saat membaca ayat tadi, apa artinya?"

Aku hentikan langkahku dan aku jelaskan pada ibuku. Kutatap wajahnya dalam-dalam. Wahai ibu..

Ayat itu menjelaskan tentang huru hara padang mahsyar saat kiamat nanti, semua akan lari meninggalkan sudaranya.

Ibunya...

Bapaknya..

Istri dan anaknya..

Semuanya sibuk pada urusan masing-masing.
Bila kita kaya orang akan memuji kita dengan sebutan orang yang berjaya.

Namun ketika kiamat terjadi apalah gunanya segala puji-pujian manusia itu.

Semua akan meninggalkan kita. Bahkan ibupun akan meninggalkan saya..

Ibu pun meneteskan air mata, ku seka air mata ibu.

Ku lanjutkan ceritanya, ku pun takut bu bila dimahsyar bekal yang ku bawa sedikit.

Pujian oran yang ramai selama bertahun-tahun pun kini tak berguna lagi.

Lalu kenapa orang beramai ramai menginginkan pujian dan takut mendapat celaan. Merekapun tak menghiraukan kehidupan akhiratnya kelak.

Ibu kembali memeluk saya dan tersenyum. Ibu mengatakan, betapa bahagianya punya anak seperti dirimu.
Baru kali ini aku merasa bahagia, karena ibuku bangga terhadap diriku.

Berbagai pencapaian yang aku dapat dulu, walaupun ibu sama memeluk ku namun baru kali ini pelukan itu sangat membekas dalam jiwaku.

Wahai manusia sebenarnya apa yang kalian kejar?

Dan apa pula yang mngejar kalian?

Bukankah maut semakin hari semakin mendekat?

Dunia yang menipu jangan sampai menipu dan membuat mu lupa pada negeri akhirat kelak.

Wahai saudaraku, apakah kalian sadar nafas kalian hanya beberapa saat lagi?

Sebelum lubang kubur kalian akan digali?

Apa yang aku dan kalian banggakan dihadapan Allah dan Rasul?

#InspiratorQuran
-Inspirasi Menghafal Quran-

Friday, March 24, 2017

BERITA BAIK BUAT LANSIA- SENAM LIDAH

*KISAH NYATA*
♻♻♻♻♻
♻♻♻♻♻

*"BERITA BAIK BUAT PARA LANSIA"*
*Klo msh muda tlg sampai kan ke ortu qta...*

*Aku adalah seorang yang sudah tua.*
*Di usia seperti aku ini, pasti banyak menyandang sakit-penyakit, tapi yang paling menguatir kan aku adalah terkena penyakit Alzeimer (kehilangan ingatan).*

*Bukan saja tidak bisa mengatur/merawat diri, bahkan merepotkan n menyusahkan sanak keluarga.*

*Suatu hari, anakku pulang ke rumah, memberitahu aku (bahwa ia mempunyai teman seorang dokter, mengajarinya satu seri gerakan SENAM LIDAH. Senam lidah tidak cuma bisa mencegah Alzeimer, juga bisa menurunkan / memperbaiki:*

*1--Berat Badan*
*2--Hypertansi*
*3--Penyumbatan*
      *Pembuluh Darah Otak*
*4--Asthma*
*5--Rabun jauh*
*6--Telinga mendengung*
*7--Infeksi Tenggorokan*
*8--Infeksi Pundak*
*9--Insomia (sulit tidur ), dll.*

*Anakku mengajariku, gerakannya sangat mudah, cukup dengan setiap pagi setelah membasuh muka di depan cermin,*
*1--JULURKAN LIDAH n MENARIK KEMBALI sebanyak 10x,*

*Selanjutnya*
*2--JULURKAN LIDAH, lalu gerakan ke kanan n ke kiri sebanyak 10x,*

*Hanya itu saja...*

*Sejak itu aku melakukan senam lidah setiap hari, terus-menerus, lebih dari setahun n membuahkan hasil yang baik, tidak hanya otak menjadi lebih jernih dan segar, ttpi :*

*1--Rabun Jauh, Kepala suka Pusing juga hilang n juga memperbaiki Problem Pencernaan*

*2--Tidak Mudah Pilek, dll*
*Yang selama ini aku derita, semuanya menjadi lebih meringankan...*
*Badan menjadi lebih gesit n lincah.*

*CATATAN REDAKSI :*

*Senam Lidah mencegah Alzheimer ada dasar nya*,

*Dari penelitian Ilmu Ke dokteran, syaraf lidah berhubungan dengan Otak Besar.*
*Saat badan kita menjadi tua dan lemah,*
*Tanda² yang muncul terlebih dahulu adalah lidah menjadi kaku n kadang lidah suka tergigit sendiri.*

*Maka, sering menggerakan lidah dengan Senam Lidah, akan*
*Men"Stimulasi" ( memberi kejutan positive ke ) Otak Besar,*

*2--Mencegah Otak Mengecil*

*3--Mencapai tujuan menyehatkan Tubuh kita.*

*Kami sarankan kepada semua teman² kami yang sudah Lanjut Usia maupun yang masih muda agar dengan rutin setiap hari melakukan senam lidah*.

_*Senam Lidah ketepatan Hasilnya 95%....100%*_

*Alangkah Bahagianya Kita bisa berbagi kepada banyak orang.*

*Senam lidah juga bermanfaat utk mengetahui gejala "stroke/pian sui".*

_*Kalau lidah sulit utk dijulurkan, atau digerakan ke kiri/kanan; itu berarti ada gejala stroke ringan.*_

_*Lebih baik lagi dibarengi dengan menarik kuping kiri/kanan*._

*Selamat mencoba*
*Salam sehat selalu...!!*

*SEMOGA BERMANFAAT*

*TOLONG SEBAR LUASKAN KEPADA PARA KERABAT DAN SAHABAT*
*SEMOGA JADI BERKAH UTK SESAMA...*

*"Info dri group FOKOMA UGM Jogja"*

Tuesday, March 21, 2017

Yuk Rekomendasikan Guru Inspiratif dalam Program_ *Wardah Inspiring Teacher

_Yuk Rekomendasikan Guru Inspiratif dalam Program_ *Wardah Inspiring Teacher*

Halooo Jogjakarta!

_Wardah Beauty_ mengundang kamu semua untuk merekomendasikan *_guru paling inspiratif_* dalam program "Wardah Inspiring Teacher"!

Apa itu Wardah Inspiring Teacher?

Wardah Inspiring Teacher adalah salah satu program dari Wardah Beauty dalam bidang pendidikan yang memberikan apresiasi kepada guru inspiratif yang berdomisili di *Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta*. Program ini merupakan bentuk komitmen Wardah Beauty dan PT Paragon Technology & Innovation untuk mendukung pendidikan di Indonesia dengan menekankan pentingnya peran guru sebagai garda terdepan.

Siapa yang bisa menjadi kandidat Wardah Inspiring Teacher?

Semua orang yang berprofesi sebagai *guru/pengajar baik formal maupun informal, masih aktif atau sudah pensiun*, dan berdomisili di Yogyakarta. Jadi, ga harus guru sekolah, ya. (Ustaz TPA atau pelatih nari juga termasuk "teacher")

Apa *benefit* yang didapatkan oleh guru yang lolos menjadi kandidat Wardah Inspiring Teacher?

Guru akan mendapatkan pelatihan soft-skill dan hard-skill, kemudian berkesempatan untuk mendapatkan apresiasi berupa dana bantuan pendidikan dan renovasi perpustakaan sekolah.

✏ Bagaimana *cara kita* mengikutsertakan guru yang kita nilai inspiratif dalam program ini?

1⃣ Membentuk kelompok berjumlah 5-10 orang (tidak harus berasal dari sekolah yang sama dan bisa mengajak teman dari luar Jogja untuk bergabung dalam kelompok)
2⃣ Setiap anggota kelompok mengunggah foto guru inspiratif yang direkomendasikan di akun instagram masing-masing (akun tidak di-protect)
3⃣ Caption berisi: identitas guru, asal sekolah, dan alasan mengapa guru tersebut direkomendasikan untuk menjadi kandidat Wardah Inspiring Teacher
4⃣ Sertakan hastag #wardahinspiringteacher #wardahxanalisa dan tag akun @wardahbeauty
5⃣ Kelompok boleh merekomendasikan lebih dari 1 guru dengan mengunggah foto masing-masing guru (tidak dijadikan satu).

⏰ Kapan batas akhir upload?
Sabtu, 25 Maret 2017

Benefit apa yang didapatkan oleh pemberi rekomendasi?

Kelompok yang merekomendasikan guru inspiratif berkesempatan mendapatkan hadiah uang tunai sebesar Rp 25.000.000,- untuk 10 kelompok dan akan diundang menghadiri Awarding Night dengan Sheila On 7 sebagai guest star.

Contact Person
Untuk Informasi lebih lanjut, hubungi 0856-4249-6649 atau follow IG @wardah.inspiringteacher

_Kami nantikan guru-guru inspiratif rekomendasimu untuk mendapatkan apresiasi dari Wardah Beauty! Dan tentunya, mereka juga akan menjadi inspirasi utk guru-guru dan calon guru anak-anak kita kelak _

Salam hangat,
Tim Wardah Inspiring Teacher

Putraku Malaikat Surgaku

*Putraku Malaikat Surgaku*

Oleh: Dr. Hj. Netty Prasetiyani Heryawan (Isteri Kang AHER- Gubernur Jawa Barat)

Putraku bukan si juara umum di sekolah, bukan bintang utama di pengajian, juga bukan pemain inti di lapangan futsal, dan tidak juga juara melukis ataupun pemenang lomba beladiri.

Dia adalah anak-anak sepuluh tahun , kelas lima SD, yang senang bermain tiada henti, menikmati keciprak air hujan, mengayuh sepeda menantang angin, dan tak terlalu suka belajar (belajar dalam pengertian umum orang Indonesia, yaitu membaca buku pelajaran sampai hafal titik koma nya).

Ini menyebabkan rumahku tak punya banyak piala.

Terkadang, sebongkah kecewa bergayut di hati, kecewa  pada  nilai  matematikanya yg tak sempurna padahal soalnya  gampang, kecewa  pada hafalan surat pendek al quran yang masih salah, kecewa pada kegagalan gol karena tendangannya yg lemah.

Mana pialamu , duhai kesayanganku?

Allah, Tuhan yang kuimani berbisik lembut.

“Kamu adalah ibu yang sangaaaaaaaaat jauh dari sempurna, dan putramu tak pernah menuntut lebih, dia ikhlas, tak melayangkan protes atas segala kekuranganmu, lalu kenapa kamu tak membalasnya dengan cara serupa? Kamu sedemikian banyak menuntut dari putramu,” aku terkesiap.

Sekawanan awan sedemikian rendah, gelap,  hujan memberi aba-aba mau turun, aku tergopoh  mencari jilbab, berlari ke jemuran. Dan disana…. putraku sedang  membungkuk memungut jemuran yg berjatuhan, sebelum kusuruh.

Aku tertidur pulas, terbangun mendengar suara berisik di kamar mandi, ternyata putraku sedang memandikan adik bungsunya, berjongkok menyabuni jari-jari kaki adiknya, tanpa kuminta.

Aku heran, kenapa rumah sedemikian damai, tak ada pekikan berebut mainan, ternyata putraku sedang bersimpuh di sudut kamar, membuatkan kapal-kapalan kertas secara adil untuk ketiga adiknya.

Embun dimataku mendesak keluar, ketika hujan turun deras dan  putraku  dilindungi payung lebar, berjalan ke rumah tetangga kemudian kembali dengan membawa daun sirsak untuk peningkat daya tahan tubuhku.

“Empat belas lembar, udah kupilihin yang bagus-bagus, biar mama cepet sembuh” tangannya terulur menyerahkan daun sirsak, , aku terkapar lemah kala itu.

Mataku menghangat, kuterima dengan seksama, seperti pak presiden menerima bendera pusaka.

Terimakasih putraku, engkau telah memberi piala, dan ini adalah sebenar-benarnya piala, piala yang sesungguhnya untukku.

Nak, ijinkan aku mencium tanganmu, sebagai wujud permohonan maaf atas segala tuntutanku...

Putra putri yang shalih- shalihah... juara yg sesungguhnya.

#sebuah refleksi bagi orang tua#

Wednesday, May 7, 2014

Kesatria Suepeeeer BadkoSerut

# Djakarta - di masjid terbesar di Asia Tenggara, Masjid Istiqlal Jakarta
Telah terjadi fenomenal yang luar biasa. Yaitu Pekik Takbir menggema seantero penjuru masjid Istiqlal pada saat acara Grand Launching ODOJ digelar 4 Rajab 1435 H Betepatan 4 Mei 2014 M.
Foto Dakwatuna.com
      Lebih dari 30.000 orang menghadiri Grand Launching One Day One Juz (ODOJ) di Masjid Istiqlal Jakarta, hari Ahad (4/5/2014).(fb.co/KomunitasOneDayOneJuz)
Bersamaan dengan kegiatan yang Mengemparkan Dunia itu. Muncul Pula kegiatan yang Insya Allah tidak kalah dengan kegiatan komunitas ODOJers di Jakarta tersebut. kegiatan itu terjadi di Masjid Nurul Iman di padukuhan Ndawung Desa Serut Kecamatan Gedangsari di Kabupaten Gunungkidul telah muncul 5 Kesatria Sueper yang akan membangunkan Dakwah Islam Indonesia terutama dimulai dari desa Serut kemudian Mereka Bekerja untuk Indonesia. Lima Kesatria Super itu adalah para Pengurus Baru Badan Koordinasi TKA/TPA desa Serut. Pada Hari itu telah diresmikan Pengurus Baru Yaitu
1. Ketua I   : Edi Purbianto
    Ketua II : Amat Isnaini
2. Sekretasi I : Romi Yulianto
    Sekretaris II : Sri Rahayu
3. Bendahara : Arief Budiman

Merekalah yang akan menjadi harapan Umat untuk membangun Generasi Kreatif masa depan yang akan membawa kemuliaan Umat ini.
semoga apa yang diamahkan kepada mereka bisa dilaksanakan dengan baik.
dengan dasar QS. Muhammad : 7
يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آمَنُوا إِنْ تَنْصُرُوا اللَّهَ يَنْصُرْكُمْ وَيُثَبِّتْ أَقْدَامَكُمْ
Hai orang-orang yang Beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedudukanmu. 

Selamat Bekerja saudaraku Mari Kita Kobarkan Semangat BadkoSerut.
Kata Kuncinya adalah Kita menyediakan waktu untuk Berdakwah Tidak menunggu waktu tersedia untuk berdakwah. Mari kita mulai dari diri kita yang kecil ini kemudian kita rumah dunia..
Mari kita mulai bekerja dari Desa Serut yang Kecil ini menuju Indonesia yang Mulia..
Allahu Akbar ---- Allahu Akbar --- Allahu Akbar---



Friday, April 18, 2014

HEBATNYA WANITA


Hebatnya seorang wanita. 
Seorang wanita saat mendapat berita kehamilannya, hatinya penuh dengan kegembiraan hingga dia meneteskan air mata. 
Tidak pernah terlintas di fikirannya bahwa proses bersalin itu sendiri dapat merenggut nyawanya. yang dia tahu, dia bakal membawa buah hatinya yang hebat ke dunia. Wanita, hebatnya dia tidak pernah mengeluh walaupun saban pagi dia muntah-muntah hingga badannya kehilangan segala tenaganya. Dia mampu tersenyum mengenangkan zuriatnya sedangkan janinnya membesar di dalam rahimnya yang hanya sebesar buah pear. Wanita, hebatnya di saat dia mulai merasakan sakit ketika hendak bersalin hatinya tidak gentar walau sedikit pun. Tidak pernah terfikir nyawanya mungkin menjadi yang terakhir. namun yang hanya dia mau, buah hatinya lahir dalam keadaan sehat. Wanita, hebatnya dia mampu menahan sakit hingga 57 Del ketika hendak melahirkan anak (sama halnya seperti 20 tulang yang dipatahkan dengan serentak). Sedangkan sekuat mana pun manusia itu hanya mampu menahan hingga 45 Del saja. Apa yang selalu kita dengar tentang wanita? Wanita tercipta dari rusuk laki-laki. Wanita itu sayap kiri laki-laki. Wanita berhati lembut dan kuat emosi. Wanita itu kaum yang lemah. Tetapi, sadarkah kita di sebalik semua itu… Wanita dicipta untuk menjadi ibu. Ibu yang mengandung selama 9 bulan dengan segala kesusahan.. Ibu yang berjuang dengan maut untuk melahirkan buah hatinya, penyambung generasi manusia.. Ibu yang berjuang menyusukan anak selama 2 tahun lamanya.. Ibu yang mengasuh, membesarkan, dan mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran.. Ibu yang doanya lebih makbul dari seorang bapak.. Wanita jugalah yang menjadi tulang belakang laki-laki.. Tidak kurang juga, wanita mampu melemahkan laki-laki.. Hebat kan wanita? Anda beruntung menjadi seorang wanita.. Buat kaum Adam, hargailah kaum Hawa anda. Selamat berjuang wahai...Kartini-kartini masa kini....

Thursday, February 6, 2014

Keutamaan Membaca Shalawat


Membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shallallahu ‘alaihi wasallam adalah ibadah yang sangat mudah. Ia bisa dibaca kapan saja dan di mana saja, baik dalam keadaan memiliki wudhu maupun tidak. Dan hebatnya, meski mudah dilakukan, membaca shalawat memiliki keutamaan yang luar biasa. 
Berikut ini 7 keutamaan membaca shalawat berdasarkan Al Qur’an dan hadits-hadits shahih : 
1. Shalawat adalah perintah Allah yang juga dilakukan-Nya dan dilakukan MalaikatNya Allah Subhanahu wa Ta’ala berfirman: إِنَّ اللَّهَ وَمَلَائِكَتَهُ يُصَلُّونَ عَلَى النَّبِيِّ يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا صَلُّوا عَلَيْهِ وَسَلِّمُوا تَسْلِيمًا "Sesungguhnya Allah dan malaikat-malaikat-Nya bershalawat untuk Nabi. Hai orang-orang yang beriman, bershalawatlah kamu untuk Nabi dan ucapkanlah salam penghormatan kepadanya". (QS. Al Ahzab : 56) 
2. Membaca shalawat satu kali akan diganjar dengan shalawat (rahmat) dari Allah 10 kali مَنْ صَلَّى عَلَىَّ وَاحِدَةً صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ عَشْرًا “Barangsiapa membaca shalawat kepadaku sekali, maka Allah akan memberinya shalawat (rahmat) sepuluh kali” (HR. Muslim) 
3. Orang yang paling banyak bershalawat adalah orang yang paling dekat dengan Rasulullah, kelak di hari kiamat أَوْلَى النَّاسِ بِى يَوْمَ الْقِيَامَةِ أَكْثَرُهُمْ عَلَىَّ صَلاَةً “Orang yang paling dekat denganku di hari kiamat nanti adalah dia yang paling banyak bershalawat kepadaku” (HR. Tirmidzi; hasan) 
4. Shalawat juga akan dibalas/dijawab oleh Rasulullah مَا مِنْ أَحَدٍ يُسَلِّمُ عَلَىَّ إِلاَّ رَدَّ اللَّهُ عَلَىَّ رُوحِى حَتَّى أَرُدَّ عَلَيْهِ السَّلاَمَ “Tidak seorangpun yang mengucapkan shalawat kepadaku melainkan Allah akan mengembalikan nyawaku sehingga aku bisa membalasnya.” (HR. Abu Dawud; shahih) 
5. Orang yang banyak bershalawat –terutama saat nama beliau disebut- akan dimuliakan Allah رَغِمَ أَنْفُ رَجُلٍ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Hinalah orang yang disebut namaku di depannya, namun ia tidak bershalawat kepadaku” (HR. Tirmidzi; hasan) 
6. Orang yang banyak bershalawat –terutama saat nama beliau disebut- tidak dicatat sebagai orang yang pelit الْبَخِيلُ الَّذِى مَنْ ذُكِرْتُ عِنْدَهُ فَلَمْ يُصَلِّ عَلَىَّ “Orang yang pelit adalah orang yang tidak bershalawat kepadaku ketika namaku disebutkan di sisinya” (HR. Tirmidzi; hasan shahih) 
7. Membaca shalawat di awal doa merupakan adab dan salah satu faktor dikabulkannya doa سَمِعَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- رَجُلاً يَدْعُو فِى صَلاَتِهِ لَمْ يُمَجِّدِ اللَّهَ تَعَالَى وَلَمْ يُصَلِّ عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- فَقَالَ رَسُولُ اللَّهِ -صلى الله عليه وسلم- عَجِلَ هَذَا . ثُمَّ دَعَاهُ فَقَالَ لَهُ أَوْ لِغَيْرِهِ إِذَا صَلَّى أَحَدُكُمْ فَلْيَبْدَأْ بِتَحْمِيدِ رَبِّهِ جَلَّ وَعَزَّ وَالثَّنَاءِ عَلَيْهِ ثُمَّ يُصَلِّى عَلَى النَّبِىِّ -صلى الله عليه وسلم- ثُمَّ يَدْعُو بَعْدُ بِمَا شَاءَ Rasulullah mendengar seseorang berdoa tanpa membaca tahmid kepada Allah juga tidak bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. 
Maka beliau bersabda, “Orang ini terburu-buru.” Kemudian beliau memanggil orang tersebut lalu bersabda, “Jika kalian berdoa maka hendaklah ia membaca tahmid kepada Rabbnya dan memuji kepadaNya, lalu bershalawat kepada Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam. Setelah itu berdoalah sesukanya.” (HR. Abu Dawud dan Tirmidzi; hasan shahih) 
 Demikian keutamaan membaca shalawat kepada Nabi Muhammad shalallahu ‘alaihi wasallam berdasarkan Al Qur’an dan hadits-hadits shahih. Semoga kita termasuk umat Rasulullah yang banyak bershalawat kepada beliau dan memperoleh keutamaan-keutamaannya. Wallahu a’lam bish shawab. [Abu Nida]

Monday, June 17, 2013

Amalan Khusus dan Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban


Bulan Sya’ban adalah bulan dimana amal shalih diangkat ke langit. Hal tersebut didasarkan kepada hadits Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam: Dari Usamah bin Zaid berkata: Saya bertanya: “Wahai Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam, saya tidak melihat engkau puasa di suatu bulan lebih banyak melebihi bulan Sya’ban?” Rasul Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam bersabda: “Bulan tersebut banyak dilalaikan manusia, antara Rajab dan Ramadhan, yaitu bulan diangkat amal-amal kepada Rabb alam semesta, maka saya suka amal saya diangkat sedang saya dalam kondisi puasa.” (HR Ahmad, Abu Dawud, An Nasa’i dan Ibnu Khuzaimah) Di samping itu Bulan Sya’ban yang letaknya persis sebelum Ramadhan seolah menjadi starting point untuk menyambut Ramadhan. Sehingga isyaratnya adalah kita perlu menyiapkan bekal ibadah untuk menyambut bulan Ramadhan. Dalam hal mempersiapkan hati atau ruhiyah, Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam mencontohkan kepada umatnya dengan memperbanyak puasa di bulan Sya’ban, sebagaimana yang diriwayatkan ‘Aisyah Radhiyallahu ‘Anh: “Saya tidak melihat Rasulullah Shalallahu ‘Alaihi Wa Sallam menyempurnakan puasanya, kecuali di bulan Ramadhan. Dan saya tidak melihat dalam satu bulan yang lebih banyak puasanya kecuali pada bulan Sya’ban.” (HR Muslim). Keutamaan Malam Nishfu Sya’ban Allah berfirman: “Sesungguhnya Kami menurunkan Al Quran di malam yang berkah, dan sesungguhnya Kami yang memberi peringatan. Di malam itu diturunkan setiap takdir dari Yang Maha Bijaksana.” (QS. Ad Dukkhan: 3-4). Diriwayatkan dari Ikrimah bahwa yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah Malam Nishfu Sya’ban. Ikrimah mengatakan: “Sesungguhnya malam tersebut adalah malam Nishfu Sya’ban. Di malam ini Allah menetapkan takdir setahun.” (Tafsir Al Qurtubi, 16/126). Sementara itu, mayoritas ulama berpendapat bahwa malam yang disebutkan pada ayat di atas adalah Lailatul Qadar dan bukan Nishfu Sya’ban. Sebagaimana keterangan Ibnu Katsir, setelah menyebutkan ayat di atas, beliau mengatakan: “Allah berfirman menceritakan tentang Al-Quran bahwa Dia menurunkan kitab itu pada malam yang berkah, yaitu Lailatul Qadar. Sebagaimana yang Allah tegaskan di ayat yang lain, (yang artinya);“Sesungguhnya Kami menurunkan Al-Quran di lailatul qadar.” Dan itu terjadi di Bulan Ramadhan, sebagaimana yang Allah tegaskan, (yang artinya); “Bulan ramadhan, yang mana di bulan ini diturunkan Al Quran.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/245). Selanjutnya Ibnu Katsir menegaskan lebih jauh: “Karena itu, siapa yang mengatakan, yang dimaksud malam pada ayat di atas adalah malam Nishfu Syaban – sebagaimana riwayat dari Ikrimah – maka itu pendapat yang terlalu jauh, karena nash Al Quran dengan tegas bahwa malam itu terjadi di Bulan Ramadhan.” (Tafsir Ibn Katsir, 7/246). Dengan demikian, pendapat yang kuat tentang malam yang berkah, yang disebutkan pada surat Ad Dukhan di atas adalah Lailatul Qadar di bulan Ramadhan dan bukan malam Nishfu Syaban. Karena itu, ayat dalam surat Ad Dukhan di atas, tidak bisa dijadikan dalil untuk menunjukkan keutamaan malam Nishfu Syaban. Hadits-hadits tentang Malam Nishfu Sya’ban Pertama “Jika datang malam pertengahan bulan Sya’ban, maka lakukanlah qiyamul lail, dan berpuasalah di siang harinya, karena Allah turun ke langit dunia saat itu pada waktu matahari tenggelam, lalu Allah berfirman, ‘Adakah orang yang minta ampun kepada-Ku, maka Aku akan ampuni dia. Adakah orang yang meminta rezeki kepada-Ku, maka Aku akan memberi rezeki kepadanya. Adakah orang yang diuji, maka Aku akan selamatkan dia, dst…?’ (Allah berfirman tentang hal ini) sampai terbit fajar.” (HR. Ibnu Majah, 1/421; HR. al-Baihaqi dalam Su’abul Iman, 3/378) Hadits dengan redaksi di atas adalah hadits maudhu’ (palsu), karena perawi bernama Ibnu Abi Sabrah statusnya muttaham bil kadzib (tertuduh berdusta), sebagaimana keterangan Ibnu Hajar dalam At Taqrib. Imam Ahmad dan gurunya (Ibnu Ma’in) berkomentar tentang Ibnu Abi Sabrah, “Dia adalah perawi yang memalsukan hadits.” (Lihat Silsilah Dha’ifah, no. 2132) Kedua Riwayat dari A’isyah, bahwa beliau menuturkan: “Aku pernah kehilangan Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam. Kemudian aku keluar, ternyata beliau di Baqi, sambil menengadahkan wajah ke langit. Nabi bertanya; “Kamu khawatir Allah dan Rasul-Nya akan menipumu?” (maksudnya, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam tidak memberi jatah Aisyah). Aisyah mengatakan: “Wahai Rasulullah, saya hanya menyangka Anda mendatangi istri yang lain.” Kemudian Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda: “Sesungguhnya Allah turun ke langit dunia pada malam Nishfu Syaban, kemudian Dia mengampuni lebih dari jumlah bulu domba Bani Kalb.” Hadits ini diriwayatkan At Turmudzi, Ibn Majah dari jalur Hajjaj bin Arthah dari Yahya bin Abi Katsir dari Urwah bin Zubair dari Aisyah. At Turmudzi menegaskan: “Saya pernah mendengar Imam Bukhari mendhaifkan hadits ini.” Lebih lanjut, imam Bukhari menerangkan: “Yahya tidak mendengar dari Urwah, sementara Hajaj tidak mendengar dari Yahya.” (Asna Al Mathalib, 1/84). Ibnul Jauzi mengutip perkataan Ad Daruquthni tentang hadits ini: “Diriwayatkan dari berbagai jalur, dan sanadnya goncang, tidak kuat.” (Al Ilal Al Mutanahiyah, 3/556). Akan tetapi hadits ini dishahihkan Al Albani, karena kelemahan dalam hadits ini bukanlah kelemahan yang parah, sementara hadits ini memiliki banyak jalur, sehingga bisa terangkat menjadi shahih dan diterima. (lihat Silsilah Ahadits Dhaifah, 3/138). Ketiga Hadits dari Abu Musa Al Asy’ari, bahwa Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Sesungguhnya Allah melihat pada malam pertengahan Sya’ban. Maka Dia mengampuni semua makhluknya, kecuali orang musyrik dan orang yang bermusuhan.” Hadits ini memiliki banyak jalur, diriwayatkan dari beberapa sahabat, diantaranya Abu Musa, Muadz bin Jabal, Abu Tsa’labah Al Khusyani, Abu Hurairah, dan Abdullah bin Amr radhiyallahu ‘anhum. Hadits dishahihkan oleh Imam Al Albani dan dimasukkan dalam Silsilah Ahadits Shahihah, no. 1144. Beliau menilai hadits ini sebagai hadits shahih, karena memiliki banyak jalur dan satu sama saling menguatkan. Meskipun ada juga ulama yang menilai hadits ini sebagai hadits lemah, dan bahkan mereka menyimpulkan semua hadits yang menyebutkan tentang keutamaan Nishfu Syaban sebagai hadits dhaif. Sikap Ulama Mengenai Menghidupkan Malam Nishfu Sya’ban Pendapat pertama Statusnya sama dengan malam-malam biasa lainnya. Mereka menyatakan bahwa semua dalil yang menyebutkan keutamaan malam nishfu Sya’ban adalah hadis lemah. Al-Hafizh Abu Syamah mengatakan, “Al-Hafizh Abul Khithab bin Dihyah, dalam kitabnya tentang bulan Sya’ban, mengatakan, ‘Para ulama ahli hadis dan kritik perawi mengatakan, ‘Tidak terdapat satu pun hadits shahih yang menyebutkan keutamaan malam Nishfu Sya’ban.’” (Al Ba’its ‘ala Inkaril Bida’, hlm. 33) Pendapat kedua Para ulama yang menilai shahih beberapa dalil tentang keutamaan Nishfu Sya’ban, mereka mengimaninya dan menegaskan adanya keutamaan malam tersebut. Setelah menyebutkan beberapa waktu yang utama, Syekhul Islam mengatakan, “… Pendapat yang dipegang mayoritas ulama dan kebanyakan ulama dalam Mazhab Hanbali adalah meyakini adanya keutamaan malam nishfu Sya’ban. Ini juga sesuai keterangan Imam Ahmad. Mengingat adanya banyak hadis yang terkait masalah ini, serta dibenarkan oleh berbagai riwayat dari para shahabat dan tabi’in ….” (Majmu’ Fatawa, 23/123) Ibnu Rajab mengatakan, “Terkait malam nishfu Sya’ban, dahulu para tabi’in penduduk Syam, seperti Khalid bin Ma’dan, Mak-hul, Luqman bin Amir, dan beberapa tabi’in lainnya memuliakannya dan bersungguh-sungguh dalam beribadah di malam itu ….” (Lathaiful Ma’arif, hlm. 247) Diantara jajaran ulama yang memegang pendapat ini adalah Syaikh Muhammad Nasiruddin Al Albani. Bahkan beliau menganggap sikap sebagian orang yang menolak semua hadits tentang malam Nishfu Sya’ban termasuk tindakan yang gegabah. Syaikh ‘Athiyah Saqr (Mufti Mesir), pernah ditanya apakah ada Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam mengadakan acara khusus pada malam Nishfu Sya’ban? Beliau menjawab (dikutip secara ringkas): “Telah pasti dari Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi wa Sallam bahwa beliau melakukan kegiatan pada bulan Sya’ban yakni berpuasa. Sedangkan qiyamul lail-nya banyak beliau lakukan pada setiap bulan, dan qiyamul lail-nya pada malam Nisfhu Sya’ban sama halnya dengan qiyamul lail pada malam lain. Hal ini didukung oleh hadits-hadits yang telah saya sampaikan sebelumnya, jika hadits tersebut dhaif maka berdalil dengannya boleh untuk tema fadhailul ‘amal (keutamaan amal shalih), dan qiyamul lail-nya beliau sebagaimana disebutkan dalam hadits dari ‘Aisyah yang telah saya sebutkan. Aktifitas yang dilakukannya adalah aktifitas perorangan, bukan berjamaah. Sedangkan aktifitas yang dilakukan manusia saat ini, tidak pernah ada pada masa Rasulullah, tidak pernah ada pada masa sahabat, tetapi terjadi pada masa tabi’in. Al Qasthalani menceritakan dalam kitabnya Al Mawahib Al Laduniyah (Juz 2, Hal. 259), bahwa tabi’in dari negeri Syam seperti Khalid bin Mi’dan, dan Mak-hul, mereka berijtihad untuk beribadah pada malam Nishfu Sya’ban. Dari merekalah manusia beralasan untuk memuliakan malam Nishfu Sya’ban. Diceritakan bahwa telah sampai kepada mereka atsar israiliyat (baca: kisah berasal dari Bani Israel) tentang hal ini. Ketika hal tersebut tersiarkan, maka manusia pun berselisih pendapat, maka di antara mereka ada yang mengikutinya. Namun perbuatan ini diingkari oleh mayoritas ulama di Hijaz seperti Atha’, Ibnu Abi Malikah, dan dikutip dari Abdurrahman bin Zaid bin Aslam bahwa fuqaha Madinah juga menolaknya, yakni para sahabat Imam Malik dan selain mereka, lalu mereka mengatakan: “Semua itu bid’ah!” Kemudian Al Qasthalani berkata: “Ulama penduduk Syam berbeda pendapat tentang hukum menghidupkan malam Nishfu Sya’ban menjadi dua pendapat: Pertama, dianjurkan menghidupkan malam tersebut dengan berjamaah di masjid. Khalid bin Mi’dan dan Luqman bin ‘Amir, dan selainnya, mereka mengenakan pakain bagus, memakai wewangian, bercelak, dan mereka menghidupkan malamnya dengan shalat. Hal ini disepakati oleh Ishaq bin Rahawaih, dia berkata tentang shalat berjamaah pada malam tersebut: “Itu bukan bid’ah!” Hal ini dikutip oleh Harb Al Karmani ketika dia bertanya kepadanya tentang ini. Kedua, bahwa dibenci (makruh) berjamaah di masjid untuk shalat, berkisah, dan berdoa pada malam itu, namun tidak mengapa jika seseorang shalatnya sendiri saja. Inilah pendapat Al Auza’i, imam penduduk Syam dan faqih (ahli fiqih)-nya mereka dan ulamanya mereka.” Syaikh Yusuf Al Qardhawi berpendapat tentang ritual di malam Nishfu Sya’ban bahwa tidak pernah diriwayatkan dari Nabi dan para sahabat bahwa mereka berkumpul di masjid untuk menghidupkan malam Nishfu Sya’ban, membaca doa tertentu dan shalat tertentu seperti yang kita lihat pada sebagian negeri orang Islam. Juga tidak ada riwayat untuk membaca surah Yasin, shalat dua rakaat dengan niat panjang umur, dua rakaat yang lain pula dengan niat tidak bergantung kepada manusia, kemudian mereka membaca do`a yang tidak pernah dipetik dari golongan salaf (para sahabah, tabi`in dan tabi’ tabi`in). Keyakinan Masyarakat Awam dan Ibadah di Malam Harinya Syaikh Hasan Al Banna dalam risalahnya mengenai hadits-hadits malam Nishfu Sya’ban menyebutkan beberapa keyakinan masyarakat awam mengenai ibadah dan keyakinan seputar Nishfu Sya’ban: Ada yang berkayakinan bahwa malam ini adalah malam diangkatnya amalan. Sebelumnya sudah kita bahas, bahwa malam tersebut bukan malam Nishfu Sya’ban, tapi malam Lailatul Qadar sebagaimana pendapat yang rajih Keyakinan bahwa barangsiapa yang hadir pada saat berdoa di masjid selepas shalat magrib dan melaksanakan shalat sebagaimana yang disebutkan, maka ia tidak akan mati pada tahun tersebut. Padahal sudah jelas, bahwa Allah lah yang menentukan ajal. Mereka akan merasa menyesal apabila tidak bisa berkumpul malam ini. Hal-hal yang seperti ini adalah keyakinan yang batil dan tidak ada landasannya Membaca Surat Yasin pada malam Nishfu Sya’ban. Mereka berkumpul dan membaca doa dengan cara tertentu. Mengenai hal ini saya belum pernah menemukan dalilnya. Karena sesungguhnya membaca Al Quran sangat disukai pada setiap waktu. Namun bila mengkhususkan hanya pada malam tersebut untuk membaca surat yang khusus, maka hal itu tidak pernah disebutkan dalam dalil apapun. Saya belum mendapatkan dalilnya tentang bolehnya hal tersebut, bila Anda memilikinya, silahkan sampaikan ke saya. Mereka mengatakan bahwa ada shalat khusus pada malam tersebut, yaitu 100 rakaat. Setiap rakaat setelah Al Fatihah membaca “Qul huwallahu ahad” sebanyak 11 kali. Jika tidak sanggup, maka shalat 10 rakaat, setiap rakaat membaca 100 kali “Qul huwallahu ahad” setelah Al Fatihah. Hal tersebut disebutkan oleh Imam Al Ghazali dalam kita Ihya’ Ulumuddin. Al Ghazali berkata, “Dahulu para salaf melaksanakan shalat ini dan mereka menyebutnya dengan sebutan Shalat Khair. Mereka melaksanakannya secara berjamaah. Diriwayatkan dari Al Hasan bahwasanya ia berkata, “Telah mengabari kepadaku 30 sahabat Nabi, bahwasanya barangsiapa yang melaksanakan shalat ini di malam ini, maka Allah akan memandang dengan 70 kali pandangan. Dan setiap pandangan akan dikabulkan 70 permintaan. Yang paling sedikit adalah mendapatkan ampunan.”” Demikian Imam Al Gazali di kitab Ihya’ Ulumuddin. Al Hafiz Al Iraqi telah membantah itu semua dengan mengatakan bahwa hadits tentang shalat pada malam Nishfu Sya’ban adalah hadits yang bathil. Pendapat tersebut adalah pendapat mayoritas ulama. Dalilnya adalah, hadits-hadits yang disebutkan tidak tercantum dalam kitab para huffaz yang terpercaya. Kalaupun ada, tidak ada periwayat dari kalangan sahabat yang dikenal, sanadnya tidak ada yang sampai kepada rasulullah Shalallahu ‘Alaihi wa Sallam. Sebagaimana diketahui bersama, bahwa pengkhususan suatu ibadah butuh kepada dalil syar’i yang kuat. Sedangkan pada persoalan terkait tidak ada dalil yang menjelaskan tentang shalat tersebut. Berkeyakinan dengan doa yang susunan tertentu, untuk hal ini pembahasan khusus, karena banyak perbedaan di kalangan masyarakat. Misalnya doa yang terjemahannya, “Ya Allah, jika engkau mencatat aku di sisi-Mu dalam Ummul Kitab, sebagai orang yang celaka (sengsara), terhalang, terusir, atau sempit rizkiku, maka hapuskanlah Ya Allah dengan dengan karunia-Mu atas kesengsaraanku, keterhalanganku, keterusiranku dan kesempitan rizkiku. Dan tetapkanlah aku di sisimu di dalam Ummil Kitab sebagai orang yang bahagia, diberi rizki, dan diberi pertolongan kepada kebaikan seluruhnya. Karena sesungguhnya Engkau telah berfirman dan firman-Mu adalah benar, di dalam kitab-Mu yang Engkau turunkan melalui lisan nabi-Mu yang Engkau utus : Allah menghapuskan apa yang Dia kehendaki dan menetapkan , dan di sisi-Nya-lah terdapat Ummul-Kitab (Lauhil Mahfuz).” Kesimpulan Jika disimpulkan, maka: Malam Nishfu Sya’ban adalah malam yang memiliki fadhilah (keutamaan), berdasarkan hadits dari Abu Musa Al Asy’ari yang dishahihkan Syaikh Al Albani di atas. Ulama berselisih pendapat tentang apakah dianjurkan menghidupkan malam Nishfu Sya’ban dengan banyak beribadah? Sebagian ulama menganjurkan, seperti sikap beberapa ulama tabi’in yang bersungguh-sungguh dalam ibadah. Sebagian yang lain menganggap bahwa mengkhususkan malam nishfu Sya’ban untuk beribadah adalah bid’ah. Kami berpendapat bahwa beribadah secara mutlak adalah disukai. Mengkhususkan dengan ibadah tertentu seperti membaca Yasin, Shalat Khair, dan doa-doa khusus adalah sesuatu yang tidak ada dalilnya dan tidak memiliki tuntutan dari syariat. Redaktur: Shabra Syatila

Kalibrasi Dakwah


“Siapakah yang lebih baik perkataannya daripada orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal shaleh, dan berkata, ‘Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang berserah diri’.” (Fushilat: 33) Dakwah, sebuah kata yang sangat luas maknanya. Dakwah menjadi jalan yang harus ditempuh oleh setiap muslim. Tidak terkecuali, semua muslim pasti bersinggungan dengan dakwah. Bahkan, Rasul pernah bersabda “Nahnu Du’aatun Qabla Kulli Syai’in”, kami adalah dai sebelum jadi apapun. Begitu erat kaitannya antara dakwah dan Islam itu sendiri. Seiring bertambahnya usia dunia, mad’u yang ada pun beraneka ragam. Keanekaragaman mad’u itupun menuntut keanekaragaman metode dakwah yang digunakan. Perkembangan mazhab, ilmu pengetahuan, hingga kondisi geografis menuntut dakwah juga harus berkembang. Rasul pun mengisyaratkan kita untuk berdakwah dengan bahasa target dakwah kita. Bahasa disini tidak sekedar komunikasi verbal juga, namun juga tata krama yang berlaku dalam lingkungan. Sebagaimana iman, dalam lika-liku perjalanan dakwahnya, seorang da’i juga pernah mengalami turunnya semangat dakwah mereka. Karena memang, dakwah itu tidaklah mudah. Jika tidak ikhlas, kita pasti akan kesulitan mau membagi ilmu kita untuk saudara kita. Oleh karena itu, seorang da’i juga butuh kalibrasi dakwah mereka. Ya dakwah butuh kalibrasi. Layaknya sebuah alat ukur yang harus senantiasa dikalibrasi sebelum melakukan sebuah pengukuran. Dalam ilmu pengukuran, kalibrasi memiliki tujuan menentukan deviasi kebenaran nilai konvensional penunjukan suatu instrumen ukur dan menjamin hasil-hsil pengukuran sesuai dengan standar. Selain itu kalibrasi juga sangat bermanfaat untuk menjaga kondisi instrumen ukur dan bahan ukur agar tetap sesuai dengan spesefikasinya. Begitu pula untuk para da’i. Para da’i juga butuh kalibrasi. Tujuannya sama, agar para da’i mampu bertahan lama dalam perjalanan dakwah ini. Perlu muhasabah untuk melanjutkan kembali perjuangan dakwah ini. Mulai dari diri sendiri, sudahkah kita kembali memperbarui niatan kita. Masihkah Allah menjadi alasan utama dakwah kita. Ataukah hanya karena senang ketika mendapat gelar aktivis dakwah. Dakwah tidak laku, kajian sepi, jangan salahkan mad’u kita. Justru kita lah yang harus mengkoreksi kembali metode dakwah kita. Perlu kita kalibrasi kembali metode dakwah kita agar klop dengan target dakwah kita. Dakwah itu berat. Bahkan Imam Ahmad bin Hambal pernah berkata, “Istirahatnya kaum muslimin adalah saat kaki kanannya menginjak surga”. Selama kita masih hidup di dunia, tak akan pernah kita istirahat dari godaannya. Maka selalu ingatlah Allah dalam setiap aktivitas dakwah kita. Jangan pernah sedikit pun lalai, karena iblis teramat pintar memanfaatkan peluang sekecil apapun. Wallahu ‘alam Oleh: Pramudya Arif D, Yogyakarta

Wednesday, May 1, 2013

Bencana Alam Bukan Karena Maksiat?


Bencana alam merupakan fenomena alam yang terjadi karena adanya aktifitas fisik dari berbagai benda-benda di alam. Lalu bagaimana mungkin terjadinya bencana alam dikaitkan dengan moralitas, kemaksiatan, kesyirikan, hal-hal yang bukan aktifitas fisik, bahkan abstrak? Bagi sebagian orang ini adalah hal yang mudah, namun bagi sebagian lagi ini menjadi hal yang sulit dicerna akal. Islam bukan agama yang mengajarkan mistisme, supranatural, tahayul dan sejenisnya. Dimana dalam dunia semacam itu, keterputusan hubungan antara sebab dan akibat adalah hal biasa. Kena musibah karena mata berkedut, sulit mendapat jodoh karena berdiri di pintu, sakit bisul gara-gara duduk di meja, dan semacamnya. Ini bukan ajaran Islam bahkan Islam melarang mempercayai hal-hal tersebut. Bahkan Islam sangat memperhitungkan nalar dan ilmu pasti. Itu sangat jelas sehingga rasanya tidak perlu membawakan contoh untuk hal ini. Namun bukan berarti percaya kepada hal yang tidak kasat mata, abstrak, gaib, itu tidak ada dalam Islam. Bahkan esensi dari iman adalah percara kepada yang gaib. Allah Ta’ala berfirman: الم ذَلِكَ الْكِتَابُ لَا رَيْبَ فِيهِ هُدًى لِلْمُتَّقِينَ الَّذِينَ يُؤْمِنُونَ بِالْغَيْبِ “Alif Laam Miim. Al Qur’an adalah kitab yang tidak terdapat keraguan. Ia adalah petunjuk bagi orang yang bertaqwa, yaitu orang yang percaya kepada yang gaib..” (QS. Al Baqarah: 183) Mulai dari dzat Allah, tidak kasat mata. Kita shalat sehari lima kali, melakukan gerakan-gerakan berdiri, menunduk, sujud, berdiri lagi apakah dalam rangka berolah raga atau apa? Tidak lain itu kita lakukan dalam rangka mengharap sesuatu yang tidak kasat mata, yaitu pahala. Kita pergi haji mengeluarkan uang puluhan juta rupiah dengan segala tatacaranya yang ‘rumit’, semua itu rela dilakukan untuk mengharap sesuatu yang masih kasat mata, yaitu surga. Dan hampir dalam semua ajaran Islam, keyakinan kita terhadap sesuatu yang gaib dan kasat mata sangat esensial perannya. Andai kita tidak percaya Allah itu ada, tidak percaya adanya pahala, tidak percaya adanya surga, karena tidak bisa dinalar dan tidak kasat mata, lalu apa gunanya anda shalat? Apa gunanya anda bersyahadat? Apa gunanya berpuasa? Apa gunanya? Semuanya akan terasa hampa. Dan kita pun melepas semua sendi keislaman kita. Jika demikian perkara gaib ada yang diingkari oleh Islam, ada pula yang wajib diyakini oleh setiap muslim. Lalu apa pembedanya? Bagi yang merenungkan ayat yang kami sitir di atas, tentu sudah mendapat jawabannya. Ya, perkara gaib yang dikabarkan Al Qur’an dan juga tentunya dikabarkan oleh Rasulullah Shallallahu’alaihi Wasallam yang telah divalidasi oleh Allah sebagai penjelas Al Qur’an. Kabar gaib dari mereka berdua adalah harga mati untuk diyakini. Karena Al Qur’an memilki nilai ‘tanpa keraguan’ atau dengan kata lain ‘pasti benar’, 100% mutlak benar. Tentu lain masalahnya jika anda, pembaca, adalah orang yang tidak mempercayai bahwa Al Qur’an adalah kalam ilahi dan menilai Al Qur’an itu belum tentu benar. Jika anda demikian, silakan tutup halaman ini dan tidak ada yang perlu kita bahas lagi. Inilah yang menjadi modal berpikir kita untuk menilai perkara yang kita bahas. Karena Allah Ta’ala berfirman dalam Al Qur’an: وَمَا أَصَابَكُمْ مِنْ مُصِيبَةٍ فَبِمَا كَسَبَتْ أَيْدِيكُمْ وَيَعْفُو عَنْ كَثِيرٍ “Dan musibah apa saja yang menimpa kalian, maka disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah mema’afkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahanmu)” (Qs. Asy-Syuura: 30) Dalam Al Qur’an, Allah Ta’ala menceritakan keadaan umat-umat terdahulu: فَكُلًّا أَخَذْنَا بِذَنْبِهِ فَمِنْهُمْ مَنْ أَرْسَلْنَا عَلَيْهِ حَاصِبًا وَمِنْهُمْ مَنْ أَخَذَتْهُ الصَّيْحَةُ وَمِنْهُمْ مَنْ خَسَفْنَا بِهِ الْأَرْضَ وَمِنْهُمْ مَنْ أَغْرَقْنَا وَمَا كَانَ اللَّهُ لِيَظْلِمَهُمْ وَلَكِنْ كَانُوا أَنْفُسَهُمْ يَظْلِمُونَ “Maka masing-masing (mereka itu) Kami siksa disebabkan dosanya, maka di antara mereka ada yang Kami timpakan kepadanya hujan batu krikil, dan di antara mereka ada yang ditimpa suara keras yang mengguntur (halilintar), dan di antara mereka ada yang Kami benamkan ke dalam bumi, dan di antara mereka ada yang kami tenggelamkan, dan Allah sekali-kali tidak hendak menganiaya mereka, akan tetapi merekalah yang menganiaya diri mereka sendiri.” (Qs. Al-Ankabut: 40) Keterkaitan antara bencana dengan maksiat adalah abstrak. Namun tinggal bagaimana sikap kita dengan ayat-ayat ini, percaya atau tidak? Renungkanlah, semoga Allah melimpahkan hidayah-Nya kepada kita semua. Andai tidak maksiat, bencana tetap terjadi? Orang-orang yang bermodalkan dengan nalarnya, mengatakan: “Fenomena alam ini tetap terjadi walau tanpa atau dengan adanya maksiat”. Lalu mereka pun mempertanyakan bukti ilmiah, hasil penelitian, data statistik yang menunjukkan adanya keterkaitan antara bencana alam dengan maksiat. Anggap saja belum pernah ada orang yang meneliti secara statistik, atau penelitian ilmiah bahwa bencana alam memiliki hubungan dengan adanya maksiat. Namun pernyataan “bencana alam tidak memiliki hubungan dengan adanya maksiat” pun merupakan sebuah hipotesa yang perlu pembuktian ilmiah. Dan untuk membuktikan hipotesa ini sendiri pun hampir tidak mungkin. Karena maksiat, kecilnya maupun besarnya, tersebar di seluruh dunia, di setiap waktu dan tempat. Hari ini saja, sudah berapa maksiat yang anda lakukan? Jawablah dengan jujur. Hampir tidak ada waktu dan tempat di dunia ini yang kosong dari maksiat. Saya, anda dan seluruh manusia tidak bisa lepas dari salah dan dosa. Nabi Shallallahu’alaihi Wasallam bersabda: كل بني آدم خطاء وخير الخطائين التوابون “Setiap manusia itu banyak berbuat salah, dan orang terbaik di antara mereka adalah yang bertaubat” (HR. At Tirmidzi no.2687. Dihasankan Al Albani dalam Shahih Sunan At Tirmidzi) Jadi ternyata, orang yang mengatakan: “bencana alam tidak memiliki hubungan dengan adanya maksiat” hanya berlandaskan pada hipotesa yang lemah. Jika ada hubungannya, mengapa kaum terbejat masih aman saja? Mereka memiliki alasan lain: “andai bencana dengan maksiat ada hubungannya, mengapa tempat yang banyak maksiat, bahkan negeri kafir, banyak yang jarang terkena bencana”. Jika anda menginginkan setiap orang yang ketika berbuat maksiat tiba-tiba disambar petir dari langit lalu mati, tentulah semua orang serta-merta akan menjadi shalih semua. Tidak akan ada lagi maksiat, tidak ada ujian keimanan, tidak ada lagi taubat, tidak ada lagi amar ma’ruf nahi mungkar, tidak akan ada lagi istilah ‘maksiat’ di dalam kamus, dan mungkin bumi ini sudah bisa disebut surga.

Monday, March 26, 2012

Dosa(mu) Adalah Alasan Mengapa Harus Berdakwah

dakwatuna.com – Begitu banyak generasi muda Islam yang -seharusnya menjadi penggerak dakwah menuju kejayaan Islam- menjadikan dosa-dosa yang mereka lakukan sebagai alasan untuk meninggalkan lapangan dakwah. Padahal kemunduran mereka sama sekali tidak membuat keadaan dakwah ini menjadi lebih baik, tapi justru secara tidak langsung mereka telah menjadi “musuh” yang menghambat pergerakan dakwah dengan sikap apatis mereka. Fenomena ini adalah sebuah kesalahan yang sangat diwaspadai. Jangan sampai semangat untuk beramar ma’ruf nahi munkar menjadi pudar hanya karena dosa dan kesalahan di masa lalu. Bukankah Allah SWT telah berfirman, “Sekiranya tidaklah karena kurnia Allah dan rahmat-Nya kepada kamu sekalian, niscaya tidak seorang pun dari kamu bersih (dari perbuatan-perbuatan keji dan mungkar itu) selama-lamanya, tetapi Allah membersihkan siapa yang dikehendaki-Nya. Dan Allah Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui. “ (QS. An-Nur: 21) Maka, jangan sampai kita berhenti beramar ma’ruf nahi munkar dengan alasan kita adalah seorang pendosa. Abul Faraj Ibnul Juazi mengatakan, “Sungguh, Iblis telah berhasil membujuk rayu sebagian ahli ibadah. Dia melihat kemungkaran, tetapi tidak mengingkarinya dan tidak mencegahnya. Lalu orang tadi berkata, ‘Yang mencegah kemungkaran dan menyuruh kebaikan adalah orang yang sudah bagus dan baik. Sementara saya belum baik betul, bagaimana mungkin saya menyuruh orang lain?’ Hal ini adalah sebuah kesalahan, karena dia seharusnya (tetap) mencegah kemungkaran dan menyuruh kepada yang ma’ruf.” Seorang lelaki pernah berkata kepada Imam Ahmad bin Hanbal, “Apakah seseorang itu tetap bertahan terus sampai dia sempurna, kemudian baru mendakwahi manusia?” Imam Ahmad menjawab, “Siapakah orang yang sempurna? Tetaplah berdakwah kepada manusia.” Begitu pun dengan yang diwasiatkan Syaikh Al-Islam Ibnu Taimiyyah kepada Abul Qasim Al-Maghribi, “Bahwa seorang hamba pasti melakukan kesalahan dan dosa adalah sebuah kemestian yang ada pada seorang hamba. Namun dia harus meminta ampun kepada Allah, sehingga seseorang tidak beralasan (untuk tidak melakukan kebaikan), hanya karena ia telah berdosa”. DR. A’idh al-Qarni, seorang ulama yang sangat besar perhatiannya terhadap dakwah dan generasi muda Islam saja pernah menemui seorang pelaku dosa dan memintanya agar aktif dalam lapangan dakwah pada Allah, agar dia ikut andil berceramah, ikut serta dalam beramar ma’ruf nahi munkar atau pengajian. Agar ia juga aktif memberikan kata-kata yang sejuk dan baik serta ikut dalam menasihati saudara-saudaranya. Beliau melakukan hal ini dengan sebuah alasan yang sangat baik, “karena setiap orang -walaupun pendosa sekalipun-, pantas dan berhak untuk berdakwah dan berceramah kepada manusia”. Tentunya sesuai dengan kapasitasnya. Pertanyaannya, bukankah itu sama halnya dengan munafik? Jawabannya, TIDAK! Mereka yang tetap beramar ma’ruf nahi munkar -walaupun mereka memiliki “kekurangan”- adalah mereka yang -Insya Allah- akan dibersihkan dan disucikan dari dosa yang telah mereka kerjakan. Bukankah Rasulullah saw. Telah bersabda -hadits ke-18 dalam Hadits Arba’in- : “Bertaqwalah kepada Allah dimana saja kamu berada, iringilah keburukan dengan kebaikan niscaya menghapusnya dan pergauilah manusia dengan akhlaq yang baik” Bukankah dakwah -menyeru kepada kebaikan dan mencegah dari keburukan- merupakan sebuah kebaikan yang dapat menghapus dosa? Bukankah orang yang istiqamah dalam berdakwah akan lebih malu bermaksiat kepada Allah sehingga hidupnya senantiasa terarah pada jalan yang diridhai-Nya? Ya, setiap kita pernah berbuat kesalahan… Tapi sebaik-baik orang yang berbuat salah adalah orang yang bertaubat. Dan dakwah tentunya dapat menjadi sarana taubat terhadap dosa dan keburukan yang telah dikerjakan. Terakhir, sebelum mengakhiri catatan singkat ini marilah sama-sama kita renungkan sabda Rasulullah SAW dalam Shahih Muslim “Demi Dzat yang jiwaku berada di tangan-Nya, kalau sekiranya kamu tidak berbuat dosa, niscaya Allah akan melenyapkan kamu. Kemudian Allah akan mendatangkan kaum selain kamu. Mereka berbuat dosa, dan mereka meminta ampun kepada Allah, lalu Allah mengampuni mereka.” (H.R. Muslim) Sumber: http://www.dakwatuna.com/2012/03/19375/dosamu-adalah-alasan-mengapa-harus-berdakwah/#ixzz1qHsrJ6Ug

Monday, February 13, 2012

Makrab Badko Serut 2012

Santri2 generasi penerus Badko Serut @ Makrab BAdko Serut Masjid An Nur Jangkungrejo Sabtu 4-5 Feb 2012
Ceria dan penuh semangat!!!
Pembukaan Makrab Badko Serut ditandai dengan penyerahan jagung dari Pembina Badko Bapak Taryono kepada Ketua Badko Serut Saudara Sigit Purnomo
yang terlewatkan
Alhamdulillah puji syukur kita panjatkan kehadirat ALLAH SWT,TUhan semesta Alam Raya ini. Dengan berkat Rahmat dan Hidayah NYA, kita bisa menghirup segarnya udara dipagi ini dan menikmati panasnya pancaran matahari. Tidak lupa salam dan sholawat semoga tetap tercurah kehadirat Nabi Muhammad SAW, sang revolusioner zaman, manusia termulia hingga akhir zaman kelak. Alhamdulillah telah sukses pelaksanaan kegiatan Makrab Badko Serut, yang dilaksanakan di Masjid An Nur Jangkungrejo pada hari Sabtu hingga Ahad 4-5 Februari 2012, Kegiatan diikuti sekitar 40 an peserta dari seluruh desa Serut,walaupun hanya perwakilan aja, tapi tetap meriah kuk hehe,... Adapun kegiatan kegiatan yang dilaksanakan akeh banget yow,seru pokokke jadi ndak bisa dilukiskan dengan kata kata lah hohoho,.. Intinya saling berbagi dan silaturahmi aja,soo yg belum pernah ikut/yg pernah gabung BAdko Serut, come in join lagi dengan BADKO SERUT YAA Ditunggu aksi aksi selanjutnya,pastikan kamu ada diacara tersebut !!! BADKO SERUT "UNTUKMU KAMI ADA"

Sunday, January 8, 2012

Agar Futur Tidak Menghantui

dakwatuna.com - “Dan berapa banyak Nabi yang berperang bersama-sama mereka sejumlah besar dari pengikut (nya) yang bertaqwa. Mereka tidak menjadi lemah karena bencana yang menimpa mereka di jalan Allah, dan tidak lesu dan tidak (pula) menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146) Saudaraku… Pengikut yang bertaqwa adalah mereka yang tidak menjadi lemah karena bencana, ujian, ketidakberuntungan yang menimpa mereka di jalan Allah, tidak lesu dan tidak pula menyerah kepada musuh Allah dan Allah menyukai orang-orang yang bersabar. Ada fenomena kelesuan atau futur dalam dimensi aqidah dan umumnya terjadi karena pergeseran orientasi hidup, lebih berorientasi pada materi duniawi an sich. Dan ada juga dalam dimensi ibadah dengan lemahnya disiplin -indhibath- terhadap amaliyah ubudiyah yaumiyah (harian). Adapun dalam dimensi fikriyah terlihat dengan lemahnya semangat meningkatkan ilmu. Di sisi lain pergeseran adab islami menyelimuti akhlaq mereka, belum lagi rasa jenuh dalam mengikuti aktivitas tarbawiyah atau pembinaan keislaman dan hubungan yang terlalu longgar antar lawan jenis. Dalam hidup akan banyak ditemui bermacam jalan. Kadang datar, kadang menurun, kadang pula meninggi. Begitu pula dalam perjalanan dakwah. Ada saatnya para muharrik (orang yang bergerak) menemui jalan yang lurus dan mudah. Namun tidak jarang menjumpai onak dan duri. Hal demikian juga terjadi pada muharrik. Suatu saat ia memiliki kondisi iman yang tinggi. Di saat lain, iapun dapat mengalami degradasi iman. Tabiat manusia memang menggariskan demikian. Dalam kondisi iman yang turun ini, para muharrik kadang terkena satu penyakit yang membahayakan kelangsungan gerang langkah dakwah. Yaitu penyakit futur atau kelesuan. Saudaraku… Futur berarti putusnya kegiatan setelah kontinyu bergerak atau diam setelah bergerak, atau malas, lamban dan santai setelah sungguh-sungguh. Terjadinya futur bagi muharrik, sebenarnya merupakan hal yang wajar. Asal saja tidak mengakibatkan terlepasnya muharrik dari roda dakwah. Hanya malaikat yang mampu kontinyu mengabdi kepada Allah dengan kualitas terbaik. Firman Allah, “dan kepunyaan-Nyalah segala apa yang di langit dan di bumi dan malaikat-malaikat yang di sisi-Nya, mereka tiada mempunyai rasa angkuh untuk menyembah-Nya dan tidak pula merasa letih. Mereka selalu bertasbih malam dan siang tiada hentinya.” (Al-Anbiya: 19-20) Karena itu Rasulallah sering berdoa: Artinya: “Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik umurku akhirnya. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik amalku keridhaan-Mu. Ya Allah, jadikanlah sebaik-baik hariku saat bertemu dengan-Mu.” Penyebab Futur Walaupun futur merupakan hal yang mungkin terjadi bagi muharrik, ada beberapa penyebab yang dapat menyegerakan timbulnya: Pertama, berlebihan dalam din (Bersikap keras dan berlebihan dalam beragama) Berlebihan pada suatu jenis amal akan berdampak kepada terabaikannya kewajiban-kewajiban lainnya. Dan sikap yang dituntut pada kita dalam beramal adalah washathiyyah atau sedang dan tengah-tengah agar tidak terperangkap dalam ifrath dan tafrith (mengabaikan kewajiban yang lain). Dalam hadits yang lain Rasul bersabda: “Sesungguhnya Din itu mudah, dan tidaklah seseorang mempersulitnya kecuali akan dikalahkan atau menjadi berat mengamalkannya.” (H.R. Muslim) Karena itu, amal yang paling di sukai Allah swt. adalah yang sedikit dan kontinyu. Kedua, berlebih-lebihan dalam hal yang mubah. (Berlebihan dan melampaui batas dalam mengkonsumsi hal-hal yang diperbolehkan) Mubah adalah sesuatu yang dibolehkan. Namun para sahabat sangat menjaganya. Mereka lebih memilih untuk menjauhkan diri dari hal yang mubah karena takut terjatuh pada yang haram. Berlebihan dalam makanan menyebabkan seseorang menjadi gemuk. Kegemukan akan memberatkan badan. Sehingga orang menjadi malas. Malas membuat seseorang menjadi santai. Dan santai mengakibatkan kemunduran. Karena itu secara keseluruhan hal ini bisa menghalangi dalam amal dakwah. Ketiga, memisahkan diri dari kebersamaan atau jamaah (Mengedepankan hidup menyendiri dan berlepas dari organisasi atau berjamaah) Jauhnya seseorang dari berjamaah membuatnya mudah didekati syaitan. Rasul bersabda: “Setan itu akan menerkam manusia yang menyendiri, seperti serigala menerkam domba yang terpisah dari kawanannya.” (H.R. Ahmad) Jika setan telah memasuki hatinya, maka tak sungkan hatinya akan melahirkan zhan (prasangka) yang tidak pada tempatnya kepada organisasi atau jamaah. Jika berlanjut, hal ini menyebabkan hilangnya sikap tsiqah (kepercayaan) kepada organisasi atau jamaah. Dengan berjamaah, seseorang akan selalu mendapatkan adanya kegiatan yang selalu baru. Ini terjadi karena jamaah merupakan kumpulan pribadi, yang masing-masing memiliki gagasan dan ide baru. Sedang tanpa jamaah seseorang dapat terperosok kepada kebosanan yang terjadi akibat kerutinan. Karena itu imam Ali berkata: “Sekeruh-keruh hidup berjamaah, lebih baik dari bergemingnya hidup sendiri.” Keempat, sedikit mengingat akhirat (Lemah dalam mengingat kematian dan kehidupan akhirat) Saudaraku… Banyak mengingat kehidupan akhirat membuat seseorang giat beramal. Selalu diingat akan adanya hisab atas setiap amalnya. Kebalikannya, sedikit mengingat kehidupan akhirat menyulitkan seseorang untuk giat beramal. Ini disebabkan tidak adanya pemacu amal berupa keinginan untuk mendapatkan ganjaran di sisi Allah pada hari yaumul hisab nanti. Karena itu Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” Kelima, melalaikan amalan siang dan malam (Tidak memiliki komitmen yang baik dalam mengamalkan aktivitas ’ubudiyah harian) Pelaksanaan ibadah secara tekun, membuat seseorang selalu ada dalam perlindungan Allah. Selalu terjaga komunikasi sambung rasa antara ia dengan Allah swt. Ini membuatnya mempersiapkan kondisi ruhiyah atau spiritual yang baik sebagai dasar untuk bergerak dakwah. Namun sebaliknya, kelalaian untuk melaksanakan amalan, berupa rangkaian ibadah baik yang wajib maupun sunnah, dapat membuat seseorang terjerumus untuk sedikit demi sedikit merenggangkan hubungannya dengan Allah. jika ini terjadi, maka sulit baginya menjaga kondisi ruhiyah dalam keadaan taat kepada Allah. kadang hal ini juga berkaitan dengan kemampuan untuk berbicara kepada hati. Dakwah yang benar, selalu memulainya dengan memanggil hati manusia, sementara sedikitnya pelaksanaan ibadah membuatnya sedikit memiliki cahaya. Allah berfirman: “Barang siapa tidak diberi cahaya (petunjuk) oleh Allah, tiadalah ia mempunyai cahaya sedikit pun.” (An-Nur: 40) Keenam, masuknya barang haram ke dalam perut (Mengkonsumsi sesuatu yang syubhat, apalagi haram) Ketujuh, tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi tantangan. (Tidak mempersiapkan diri untuk menghadapi berbagai rintangan dan tantangan dakwah) Setiap perjuangan selalu menghadapi tantangan. Haq dan bathil selalu berusaha untuk memperbesar pengaruhnya masing-masing. Akan selalu ada orang-orang Pendukung Islam. Di lain pihak akan selalu tumbuh orang-orang pendukung hawa nafsu. Dan dalam waktu yang Allah kehendaki akan bertemu dalam suatu “fitnah”. Dalam bahasa Arab, kata “fitnah” berasal dari kata yang digunakan untuk menggambarkan proses penyaringan emas dari batu-batu lainnya. Karena itu “fitnah” merupakan sunnatullah yang akan mengenai para pelaku dakwah. Dengan “fitnah” Allah juga menyaring siapa hamba yang masuk golongan shadiqin dan siapa yang kadzib (dusta). Dan jika fitnah itu datang, sementara ia tidak siap menerimanya, besar kemungkinan akan terjadi pengubahan orientasi dalam perjuangannya. Dan itu membuat futur. Allah Berfirman: “Hai orang-orang yang beriman sesungguhnya di antara istri-istrimu dan anak-anakmu ada yang menjadi musuh bagimu. Maka hati-hatilah kamu terhadap mereka.” (Al-Ahqaf: 14) Kedelapan, bersahabat dengan orang-orang yang lemah (Berteman dengan orang-orang yang buruk dan bersemangat rendah) Kondisi lingkungan (biah) dapat menentukan kualitas seseorang. Teman yang baik akan melahirkan lingkungan yang baik. Akan tumbuh suasana ta’awun atau tolong-menolong dan saling menasihatkan. Sementara teman yang buruk dapat melunturkan hamasah (kemauan) yang semula telah menjadi tekad. Karena itu Rasulullah bersabda: “Seseorang atas diri sahabatnya, hendaklah melihat salah seorang di antara kalian siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud) Kesembilan, spontanitas dalam beramal (Tidak ada perencanaan yang baik dalam beramal, baik dalam skala individu atau fardi maupun komunitas atau jama’i) Amal yang tidak terencana, yang tidak memiliki tujuan sasaran dan sarana yang jelas, tidak dapat melahirkan hasil yang diharapkan. Hanya akan timbul kepenatan dalam berdakwah, sementara hasil yang ditunggu tak kunjung datang. Karena itu setiap amal harus memiliki minhajiatul amal (sistematika kerja). Hal ini akan membuat ringan dan mudahnya suatu amal. Kesepuluh, jatuh dalam kemaksiatan (Meremehkan dosa dan maksiat) Perbuatan maksiat membuat hati tertutup dengan kefasikan. Jika kondisi ini terjadi, sulit diharapkan seorang juru dakwah mampu beramal untuk jamaahnya. Bahkan untuk menjaga diri sendiri pun sulit. Cara Mengobati Kelesuan Saudaraku… Untuk mengobati penyakit futur ini, beberapa ulama memberikan beberapa resep. Pertama, jauhi kemaksiatan Kemaksiatan akan mendatangkan kemungkaran Allah. Dan pada akhirnya membawa kepada kesesatan. Allah berfirman: “Dan janganlah kamu melampaui batas yang menyebabkan kemurkaan-Ku menimpamu. Dan barang siapa ditimpa musibah oleh kemurkaan-Ku, maka binasalah ia.” (Thaha: 81) Jauh dari kemaksiatan akan mendatangkan hidup yang akan lebih berkah. Dengan keberkahan ini orang dapat terhindar dari penyakit futur. Allah berfirman: “Jikalau penduduk negeri-negeri beriman dan bertaqwa, pastilah kami melimpahkan kepada mereka keberkahan dari langit dan dari bumi.” (Al-A’raf: 96) Kedua, tekun mengamalkan amalan siang dan malam Amalan siang dan malam dapat melindungi dan menjaga pelaku dakwah untuk selalu berhubungan dengan Allah swt. Hal ini dapat menjauhkannya dari perbuatan yang tidak mendapat restu dari Allah. Allah berfirman: “Dan hamba-hamba yang baik dari Rabb Yang Maha Penyayang itu, ialah orang berjalan di atas bumi dengan rendah hati dan apabila orang-orang jahil menyapa mereka, mereka mengucapkan kata-kata yang (mengandung) keselamatan. Dan orang-orang yang melalui malam harinya dengan bersujud dan berdiri untuk Rabb mereka.” (Al-Furqan: 63-64) Ketiga, mengintai waktu-waktu yang baik Dalam banyak hadits Rasulullah saw. banyak menginformasikan adanya waktu-waktu tertentu dimana Allah swt. lebih memperhatikan doa hamba-Nya. Sepertiga malam terakhir, hari Jum’at, antara dua khutbah, ba’da Ashar hari Jum’at, bulan Ramadhan, bulan Zulqaedah, Zulhijjah, Muharram, rajab dll. Waktu-waktu itu memiliki keistimewaan yang dapat mengangkat derajat seseorang di hadapan Allah. Keempat, menjauhi hal-hal yang berlebihan. Berlebihan dalam kebaikan bukan merupakan tindakan bijaksana. Apalagi berlebihan dalam keburukan. Allah memerintah manusia sesuai dengan kemampuannya. Firman Allah: “Maka bertaqwalah kamu kepada Allah sesuai dengan kesanggupanmu!” (At-Taghabun: 6) Islam adalah Din tawazun (keseimbangan). Disuruhnya pemeluknya memperhatikan akhirat, namun jangan melupakan kehidupan dunia. Seluruh anggota tubuh dan jiwa mempunyai haknya masing-masing yang harus ditunaikan. Dalam ayat lain Allah berfirman: “Demikianlah kami telah menjadikan kamu (umat Islam), umat pertengahan (adil) dan pilihan. (Al-Baqarah: 143) Kelima, melazimi Jamaah “Berjamaah itu rahmat, Firqah (perpecahan) itu azab.” demikian sabda Rasulullah. Dalam hadits yang lain beliau bersabda: “Barangsiapa yang menghendaki tengahnya surga, hendaklah ia melazimi jamaah.” Dengan jamaah seorang muharrik akan selalu berada dalam majelis dzikir dan pikir. Hal ini membuatnya selalu terikat dengan komitmennya semula. Juga jamaah dapat memberikan program dan kegiatan yang variatif. Sehingga terhindarlah ia dari kebosanan dan rutinitas. Keenam, mengenal kendala yang akan menghadang Saudaraku… Pengetahuan pelaku dakwah dan pejuang akan tabiat jalan yang hendak dilalui serta rambu-rambu yang ada, akan membuatnya siap, minimal tidak gentar, untuk menjalani rintangan yang akan datang. Allah berfirman: “Dan beberapa banyak Nabi yang berperang bersama mereka sebagian besar karena bencana yang menimpa di jalan Allah, dan tidak pula lesu dan tidak pula menyerah (kepada musuh). Allah menyukai orang-orang yang sabar.” (Ali Imran: 146) Ketujuh, teliti dan sistemik dalam kerja. Dengan perencanaan yang baik, Pembagian tugas yang jelas, serta kesadaran akan tanggung jawab yang diemban, dapat membuat harakah menjadi harakatul muntijah (harakah yang berhasil). Perencanaan akan menyadarkan pejuang, bahwa jalan yang ditempuh amat panjang. Tujuan yang akan dicapai amat besar. Karena itu juga dibutuhkan waktu, amal dan percobaan yang besar. Jika ini semua telah dimengerti, insya Allah akan tercapai sasaran-sasaran yang telah ditentukan. Kedelapan, memilih teman yang shalih Rasulullah bersabda: “Seseorang tergantung pada sahabatnya, maka hendaklah ia melihat dengan siapa ia berteman.” (H.R. Abu Daud) Kesembilan, menghibur diri dengan hal yang mubah Bercengkerama dengan keluarga, mengambil secukupnya kegiatan rekreatif serta memberikan hak badan secara cukup mampu membuat diri menjadi segar kembali untuk melanjutkan amal yang sedang dikerjakan. Kesepuluh, mengingat mati, surga dan neraka Rasulullah bersabda: “Jika sekiranya engkau mengetahui apa yang aku ketahui, niscaya engkau akan banyak menangis dan sedikit tertawa.” Saudaraku… Ketahuilah, bahwa futur menyebabkan jalan dakwah yang harus di tempuh menjadi lebih panjang, sebab tidak mendapatkan ma’iyatullah (kebersamaan dan pembelaan Allah) dan daya intilaq (lompatan) kita menjadi lebih berat, baik karena borosnya biaya dan rontoknya para pejuang dan penyeru dakwah. Mudah-mudahan Allah selalu menjaga kita, Amin. Wallahu a’lam bis shawab Sumber: http://www.dakwatuna.com/2009/04/2378/agar-futur-tidak-menghantui/#ixzz1iwF0y0Ob