Kadang, berseminar itu melelahkan. Kata siapa? Yah, kata saya. Namun demikian, tetap saya lakukan. Kenapa? Ternyata ada alasan tersendiri.
Ahad kemarin untuk kesekian kalinya saya seminar bareng Andrie Wongso dan Tung Desem Waringin, ikon-nya dunia seminar di tanah air. Boleh dibilang, mereka adalah gurunya guru. Right?
Seperti biasa, ticket for charity. Tepatnya untuk para pengungsi Rohingya melalui Dompet Dhuafa. Doakan ya, semoga beliau-beliau tetap sehat, panjang umur, dan lancar rezeki. Aamiin. Demikian pula para peserta seminar yang datang dari berbagai penjuru Indonesia.
Selama 2 tahun terakhir, 60% seminar saya konsepnya sudah charity alias sosial. Peserta tetap bayar, tapi sayanya tidak dibayar. Kok nggak gratis saja? Kalau peserta digratiskan, kemungkinan besar mereka kurang serius.
Berdasarkan pengalaman saya, lebih baik peserta tetap bayar terus uang tiketnya saya donasikan. Kalau peserta nggak punya uang, gimana? Yah sudah, kerahkan tenaga. Bantu panitia mendapatkan 5 peserta berbayar. Bukan memelas, berharap dikasihani.
Meski lelah dan tidak ada uangnya, kenapa saya masih mengadakan seminar ini-itu, bahkan secara rutin? Saya ingin melihat perubahan, pada setiap peserta. Begitu mereka berubah, rasanya menyenangkan. Sangat menyenangkan.
Juga saya ingin kesibukan saya dalam seminar menjadi amal jariyah buat almarhum papa saya serta almarhum kakek-nenek saya. Meski tak seberapa, tentu rasanya melegakan saat kita tahu bahwa ada pahala yang mengalir buat orangtua manakala si anak berusaha berbuat baik dan mengajarkan ilmu.
Doakan saya, semoga niat saya tetap terjaga. Sekian dari saya, Ippho Santosa.










