BadkoSerut Membangun Kader :

"Rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan Rijalul 'amal (orang yang pandai bekerja) dan Rijalul 'amal tidak sama dengan Rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Kemudian Rijalul jihad pun tidaklah sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yakni orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil"

Kader dakwah menyeru masyarakat dengan seruan pujangga Ar Rofi'i:

"Jangan kacau--------> di sini ketertiban" "Jangan menyimpang--------> di sini jalan yang lurus" "Jangan mundur-----> di sini saya menyeru" Tak ada sesuatupun yang dapat memperbudak kalian selama teriakanmu: Allahu Akbar...!!!

Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi Iman

Konsisten di atas al-Haq sampai mati adalah sesuatu yang sangat berat, sehingga Rasul sering berdo'a dengan do'a ini: "Ya Allah yang memutar balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di jalan agamaMu."

Tanda Cinta Kepada Allah :

"Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah-tambahlah iman mereka dan mereka selalu bertawakkal (berserah diri) kepada Rabb mereka." (QS. 8:2).

QS. At Taubah ayat 11,

"Sesungguhnya Allah telal membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar."

Tuesday, June 5, 2012

Dakwah



Dakwah berasal dari kata bahasa arab da-‘aa, yad-‘uu, da’watan atau da’wah artinya seruan, panggilan, ajakan, dan undangan (Kamus Al
Munawir Arab – Indonesia Terlengkap karangan AW Munawar). Dalam kaitan dakwah yang berarti menyeru, Allah SWT berfirman artinya,

“Serulah (manusia) ke jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu Dialah yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” (QS An-Nahl [16]: 125)

Ayat tersebut diatas berisi perintah kepada setiap muslim untuk melakukan dakwah, mengajak dan menyeru manusia ke jalan Allah yaitu agama Islam melalui cara-cara yang arif dan bijak, pelajaran dan contoh teladan yang baik, serta dialog atau diskusi yang baik pula.

Kewajiban dakwah ini melanjutkan estafet perjuangan Rasulullah Saw sebagai khatamul Anbiyai Wal Mursalin yang diutus sebagai Rahmatan lil ‘Alamin. Itulah pesan Rasulullah SAW menjelang akhir hayatnya yang disampaikan pada haji wada’, “Hendaklah yang hadir (yang mendengarkan wasiatku ini) meneruskan kepada siapa saja yang tidak hadir.”

Risalah yang diemban Nabi Muhammad SAW disampaikan sesuai dengan situasi dan kondisi umatnya, bahkan peristiwa yang terjadi. Ketika di Makkah dakwah beliau umumnya mengenai tauhid, sedangkan ketika di Madinah mengenai berbagai masalah hidup dan kehidupan yang menyangkut politik, ekonomi, sosial, budaya, maupun keamanan. Situasi dan kondisi masyarakat yang dihadapilah yang menentukan dakwah baik materinya maupun pendekatannya. Da’wah Rasulullah SAW tidak terpaku pada suatu materi dan metode pendekatan, tetapi mengalami perubahan seirama dengan perubahan sosial.

Ada beberapa metode dakwah;
Dakwah fardiah merupakan metode dakwah yang dilakukan seseorang kepada orang lain (satu orang) atau kepada beberapa orang dalan jumlah yang kecil dan terbatas. Biasanya dakwah fardiah terjadi tanpa persiapan yang matang dan tersusun secara tertib.

Dakwah ammah merupakan jenis dakwah yang dilakukan oleh seseorang dengan media lisan yang ditujukan kepada orang banyak dengan maksud menanamkan pengaruh kepada mereka. Media yang dipakai biasanya berbentuk khutbah (pidato). Dakwah amah ini kalau ditinjau dari segi subjeknya, ada yang dilakukan oleh perorangan dan ada yang dilakukan oleh organisasi tertentu yang berkecimpung dalam soal-soal dakwah.

Dakwah bil-lisan adalah penyampaian informasi atau pesan dakwah melalui lisan (ceramah atau komunikasi langsung antara subjek dan objek dakwah). Dakwah jenis ini akan efektif bila: disampaikan berkaitan dengan hari ibadah seperti khutbah jumat atau hari raya, kajian yang disampaikan menyangkut ibadah praktis, konteks sajian terprogram, disampaikan dengan metode dialog dengan hadirin.

Dakwah bil-haal adalah dakwah yang mengedepankan perbuatan nyata. Hal ini dimaksudkan agar si penerima dakwah mengikuti jejak dan hal ihwal si dai (juru dakwah). Dakwah jenis ini mempunyai pengaruh yang besar pada diri penerima dakwah.

Dakwah bil-hikmah adalah menyampaikan dakwah dengan cara yang arif bijaksana, yaitu melakukan pendekatan sedemikian rupa sehingga pihak objek dakwah mampu melaksanakan dakwah atas kemauannya sendiri, tidak merasa ada paksaan, tekanan maupun konflik. Dengan kata lain dakwah ini merupakan suatu metode pendekatan komunikasi dakwah yang dilakukan atas dasar persuasive.

Memasuki zaman global seperti saat sekarang ini, ada satu lagi pola dakwah, yaitu dakwah bit at-tadwin (dakwah melalui tulisan) baik dengan menerbitkan kitab-kitab, buku, majalah, internet, Koran, dan tulisan-tulisan yang mengandung pesan dakwah sangat penting dan efektif. Keuntungan lain dari dakwah model ini tidak menjadi musnah meskipun sang dai, atau penulisnya sudah wafat.

Sumber : Dialog Jumat Tabloid Republika,