BadkoSerut Membangun Kader :

"Rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan Rijalul 'amal (orang yang pandai bekerja) dan Rijalul 'amal tidak sama dengan Rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Kemudian Rijalul jihad pun tidaklah sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yakni orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil"

Kader dakwah menyeru masyarakat dengan seruan pujangga Ar Rofi'i:

"Jangan kacau--------> di sini ketertiban" "Jangan menyimpang--------> di sini jalan yang lurus" "Jangan mundur-----> di sini saya menyeru" Tak ada sesuatupun yang dapat memperbudak kalian selama teriakanmu: Allahu Akbar...!!!

Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi Iman

Konsisten di atas al-Haq sampai mati adalah sesuatu yang sangat berat, sehingga Rasul sering berdo'a dengan do'a ini: "Ya Allah yang memutar balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di jalan agamaMu."

Tanda Cinta Kepada Allah :

"Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah-tambahlah iman mereka dan mereka selalu bertawakkal (berserah diri) kepada Rabb mereka." (QS. 8:2).

QS. At Taubah ayat 11,

"Sesungguhnya Allah telal membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar."

Sunday, December 25, 2011

Aktivis Dakwah Memimpin Negara

Aktivis Dakwah Memimpin Negara
Artikel Islami - 18 Maret 2004

Aktivis Dakwah Memimpin Negara

Dalam situasi apa pun, orang kafir, Yahudi, Nasrani dan mereka yang tak mau menerima syariat Islam, tak boleh dijadikan pemimpin. Umat Islam harus berusaha mencegahnya.

Sepuluh hari berlalu dari Ramadhan 8 H. Sepuluh ribu pasukan kaum Muslimin bergerak meninggalkan Madinah. Langkah mereka pasti, menuju Makkah. Di Marru Zhahran, Rasulullah saw dan pasukannya berhenti untuk melaksanakan shalat Isya. Rasulullah saw memerintahkan seluruh pasukannya untuk menyalakan obor. Dalam sekejap lembah itu terang benderang.

Ini salah satu taktik Rasulullah saw untuk menggetarkan hati musuh. Ketika Abu Sufyan bin Harb, Hakim bin Hizam dan Budail bin Warqa’ sedang berkeliling di sekitar Makkah mencari berita, mereka langsung terkejut melihat banyaknya nyala obor. Dalam keterkejutan itu, mereka tidak bisa memperkirakan berapa jumlah kaum Muslimin. Yang ada dalam pikiran mereka hanya satu: kekuatan musuh sangat besar!

Ketika ketiganya sedang diselimuti ketakutan, Abbas bin Abdul Muthalib datang memergoki mereka. Setelah terjadi perbincangan, akhirnya Abu Sufyan bertanya dengan suara bergetar. “Sebaiknya apa yang saya lakukan?”

“Naiklah ke punggung hewan tungganganku ini. Aku akan membawamu ke hadapan Rasulullah saw dan meminta jaminan untukmu,” jawab Abbas.

Abu Sufyan segera menuruti perintah Abbas. Sedangkan kedua temannya kembali ke Makkah. Abbas tidak sulit membawa Abu Sufyan ke hadapan Rasulullah saw. Sebab, setiap kali melewati pasukan kaum Muslimin, mereka dibiarkan berlalu. Pasukan itu mengenal siapa Abbas. Apalagi ia mengendarai hewan tunggangan Rasulullah saw.

Hanya saja ketika melewati Umar bin Khathab, Abbas dan Abu Sufyan sempat berhenti. Begitu melihat Abu Sufyan, Umar buru-buru mendatangi Rasulullah saw. “Wahai Rasulullah, ini adalah Abu Sufyan. Biarkan saya memenggal kepalanya,” ujar Umar.

“Saya telah memberikan perlindungan atasnya, wahai Rasulullah,” ujar Abbas buru-buru sambil menggandeng Abu Sufyan.

Sempat terjadi perdebatan kecil antara Umar dan Abbas. Rasulullah saw segera melerai dan memerintahkan Abbas untuk membawa Abu Sufyan pergi. Beliau meminta untuk membawanya menghadap kembali besok pagi.

Keesokan harinya, Abu Sufyan dihadapkan lagi kepada Rasulullah saw. “Wahai Abu Sufyan, bukankah sudah tiba saatnya bagimu untuk menyatakan tiada Tuhan selain Allah?” tanya Rasulullah saw.

“Engkau begitu santun dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Kalau memang ada Tuhan selain Allah, tentu aku akan dibelanya,” jawab Abu Sufyan.

“Bukankah tiba saatnya engkau mengakui, aku adalah Rasulullah?” tanya Nabi lagi.

“Sungguh engkau begitu santun dan selalu menjaga hubungan kekeluargaan. Namun, masih ada yang mengganjal di hatiku,” jawab Abu Sufyan.

Melihat Abu Sufyan belum juga menyatakan keislamannya, Abbas membentak, “Celakalah engkau! Bersaksilah, tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad utusan-Nya sebelum kepalamu dipenggal!”

Abu Sufyan pun mengucapkan syahadat. Abbas segera mendekati Rasulullah saw seraya berkata, “ Ya Rasulullah, Abu Sufyan menyukai kebanggaan. Berilah sesuatu kebanggaan baginya.”

“Ya, siapa yang masuk ke rumah Abu Sufyan, dia aman. Siapa yang masuk ke Masjidil Haram, ia selamat,” ujar Rasulullah saw.

Selanjutnya, Rasulullah saw menyuruh pasukannya untuk bergerak menuju Makkah. Abu Sufyan diperintahkan berangkat lebih dahulu untuk menemui keluarga dan orang-orang kafir Quraisy. Tanpa perlawanan berarti, Makkah berhasil dikuasai. Sekitar 2000 orang menyatakan masuk Islam dan tunduk di bawah bendera Islam.

Sosok seperti Abu Sufyan dalam kisah di atas tak sedikit jumlahnya. Merekalah para tokoh yang sebenarnya mengetahui kebenaran Islam, tapi tak mau mengakuinya. Bisa jadi karena gengsi, tak mau dirinya dipimpin orang lain atau menjaga wibawanya. Sosok seperti ini sangat sulit ditaklukkan dengan metode “dakwah biasa”. Ia hanya bisa ditundukkan dengan kekuasaan, dengan kekuatan. Di sinilah peranan jabatan dan kekuasaan sangat menentukan.

Bukti lainnya tentang pentingnya kekuasaan untuk dakwah ini nampak pada perjalanan sejarah Islam sendiri. Jika kita telusuri sejarah, kuantitas mereka yang masuk Islam pada periode awal dakwah Rasulullah saw, jauh lebih kecil. Dakwah periode Makkah yang berlangsung sekitar 13 tahun hanya menghasilkan sekitar 200 orang. Sedangkan dakwah periode Madinah yang diwarnai dengan “penampakkan kekuasaan” mampu merekrut jumlah yang cukup besar. Hanya dalam tempo 10 tahun berada di Madinah, Rasulullah saw berhasil membawa 10 ribu pasukannya untuk membebaskan Makkah kembali. Dan, ketika kota itu berhasil dikuasai, seketika itu juga sekitar 2000 orang langsung serentak menyatakan diri masuk Islam.

Kekuasaan itu penting. Sama pentingnya dengan kepemimpinan. Bahkan, kadang kekuasaan adalah nama lain dari kepemimpinan. Dengan kekuasaan orang memimpin. Dan kepemimpinan, tak bisa berjalan maksimal tanpa adanya wewenang berkuasa. Jadi, kekuasaan dan kepemimpinan adalah dua kata yang tidak bisa dipisahkan. Jika dakwah memerlukan kekuasaan, berarti juga memerlukan kepemimpinan.

Seorang pemimpin memegang peran penting dalam menentukan kebijakan. Karenanya, di antara strategi penting yang dijalankan Rasulullah saw dalam berdakwah adalah mengirimkan surat kepada para raja agar mereka masuk Islam. Rasulullah saw juga sering memfokuskan dakwahnya kepada para pimpinan kabilah. Sebut saja sahabat beliau Thufail bin Amr. Ia adalah pemimpin suku Daus. Di tangannyalah seluruh penduduk Daus masuk Islam.

Pemimpin memegang peranan penting. Di tangannya beragam ketentuan ditelurkan. Hitam putih sebuah keputusan lahir dari tangannya. Karena begitu besar peranan pemimpin, al-Qur’an merasa harus “turut campur” memberikan arah kepada kaum Muslimin untuk menentukan pemimpin. Ini tak hanya menunjukkan universalitas kandungan al-Qur’an, tapi juga betapa pentingnya memilih pemimpin.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, taatilah Allah dan Rasul-Nya dan ulil amri (pemimpin) di antara kamu,” (QS an-Nisa’: 59).

Dalam ayat tersebut kata ulil amri digandeng dengan kata minkum (di antara kamu). Ini mengisyaratkan bahwa pemimpin umat Islam harus dari kalangan mereka sendiri. Lebih tegas lagi Allah SWT nyatakan dalam firman-Nya, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang kafir menjadi wali dengan meninggalkan orang-orang Mukmin…,”(QS an-Nisa’: 144).

Larangan menjadikan orang kafir sebagai pemimpin ini dilandasi oleh sifat mereka yang tak hentinya memusuhi umat Islam. Allah SWT sendiri menegaskan bahwa orang kafir adalah musuh-Nya dan musuh kaum Muslimin yang tak boleh dijadikan pemimpin. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil musuh-Ku dan musuhmu menjadi teman-teman setia yang kamu sampaikan kepada mereka (berita-berita Muhammad), karena rasa kasih sayang. Padahal sesungguhnya mereka telah ingkar kepada kebenaran yang datang kepadamu. Mereka mengusir Rasul dan (mengusir) kamu karena kamu beriman kepada Allah, Tuhanmu,” (QS al-Mumtahanah: 1).

Termasuk mereka yang tak boleh dijadikan pemimpin adalah orang Yahudi dan Nasrani. Sebab, merekalah yang paling besar permusuhannya terhadap Islam. Permusuhan mereka tak kan pernah padam, sampai kiamat menjelang. Sebagian mereka adalah penolong bagi yang lain. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil orang-orang Yahudi dan Nasrani menjadi pemimpin-pemimpin(mu). Sebagian mereka adalah pemimpin (penolong) sebagian yang lain,” (QS al-Maidah: 51).

Selain Yahudi dan Nasrani, kaum Muslimin dilarang juga menjadikan pemimpin orang yang mengingkari sebagian atau seluruh syariat Islam. Orang-orang ini tak boleh dijadikan pemimpin lantaran mereka sering melecehkan ajaran Islam. Bentuk pelecehan ini bisa beragam. Di antaranya, tak mau menjadikan syariat Islam sebagai landasan hidup bernegara atau mengingkari sebagian konsep syariat Islam. Sesuatu yang sifatnya final dan tak membuka ruang ijtihad mereka kutak-katik. Mereka tak pernah mau kalau gerakan Islam marak dan menyentuh kekuasaan. Karena itu, Allah melarang dengan tegas orang-orang ini untuk dijadikan pemimpin.

Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu mengambil jadi pemimpinmu orang-orang yang membuat agamamu jadi buah ejekan dan permainan, (yaitu) di antara orang-orang yang telah diberi kitab sebelummu dan orang-orang yang kafir (musyrik). Dan bertakwalah kepada Allah jika kamu betul-betul orang-orang yang beriman,” (QS al-Maidah: 57).

Ketentuan memilih pemimpin ini bersifat umum. Bukan hanya dalam memimpin negara, tapi juga provinsi, kabupaten bahkan lingkup yang sangat kecil bernama keluarga. Yang menjadi pemimpin harus umat Islam dan mengerti syariat Islam serta mau mengamalkannya.
wassalam

Source : majalah Sabili

5 WASIAT DARI ALLAH S.W.T. KEPADA RASULULLAH S.A.W

5 WASIAT DARI ALLAH S.W.T. KEPADA RASULULLAH S.A.W
Kisah - 22 April 2004

Dari Nabi S.A.W., "Pada waktu malam saya diisrakkan sampai ke langit, Allah S.W.T telah memberikan lima wasiat, antaranya :
1. Janganlah engkau gantungkan hatimu kepada dunia kerana sesungguhnya Aku tidak menjadikan dunia ini untuk engkau.
2. Jadikan cintamu kepada-Ku sebab tempat kembalimu adalah kepada-Ku.
3. Bersungguh-sungguhlah engkau mencari syurga.
4. Putuskan harapan dari makhluk kerana sesungguhnya mereka itu sedikitpun tidak ada kuasa di tangan mereka.
5. Rajinlah mengerjakan sembahyang tahajjud kerana sesungguhnya pertolongan itu berserta qiamullail.

Ibrahim bin Adham berkata, "Telah datang kepadaku beberapa orang tetamu, dan saya tahu mereka itu adalah wakil guru tariqat. Saya berkata kepada mereka, berikanlah nasihat yang berguna kepada saya, yang akan membuat saya takut kepada Allah S.W.T.
Lalu mereka berkata, "Kami wasiatkan kepada kamu 7 perkara, iaitu :
1. Orang yang banyak bicaranya janganlah kamu harapkan sangat kesedaran hatinya.
2. Orang yang banyak makan janganlah kamu harapkan sangat kata-kata himat darinya.
3. Orang yang banyak bergaul dengan manusia janganlah kamu harapkan sangat kemanisan ibadahnya.
4. Orang yang cinta kepada dunia janganlah kamu harapkan sangat khusnul khatimahnya.
5. Orang yang bodoh janganlah kamu harapkan sangat akan hidup hatinya.
6. Orang yang memilih berkawan dengan orang yang zalim janganlah kamu harapkan sangat kelurusan agamanya.
7. Orang yang mencari keredhaan manusia janganlah harapkan sangat akan keredhaan Allah daripadanya."