BadkoSerut Membangun Kader :

"Rijalul qaul (orang yang pandai berbicara) tidak sama dengan Rijalul 'amal (orang yang pandai bekerja) dan Rijalul 'amal tidak sama dengan Rijalul jihad (orang yang optimal dalam bekerja). Kemudian Rijalul jihad pun tidaklah sama dengan Rijalul jihad yang muntij (produktif) wal hakim (bijaksana) yakni orang yang mampu memberikan hasil yang optimal dengan pengorbanan yang paling kecil"

Kader dakwah menyeru masyarakat dengan seruan pujangga Ar Rofi'i:

"Jangan kacau--------> di sini ketertiban" "Jangan menyimpang--------> di sini jalan yang lurus" "Jangan mundur-----> di sini saya menyeru" Tak ada sesuatupun yang dapat memperbudak kalian selama teriakanmu: Allahu Akbar...!!!

Konsisten di jalan dakwah merupakan salah satu konsekuensi Iman

Konsisten di atas al-Haq sampai mati adalah sesuatu yang sangat berat, sehingga Rasul sering berdo'a dengan do'a ini: "Ya Allah yang memutar balikkan hati manusia, teguhkanlah hatiku di jalan agamaMu."

Tanda Cinta Kepada Allah :

"Yaitu orang-orang yang apabila disebut nama Allah, bergetarlah hati mereka dan bila dibacakan kepada mereka ayat-ayat-Nya bertambah-tambahlah iman mereka dan mereka selalu bertawakkal (berserah diri) kepada Rabb mereka." (QS. 8:2).

QS. At Taubah ayat 11,

"Sesungguhnya Allah telal membeli dari orang-orang mukmin, diri dan harta mereka dengan balasan surga untuk mereka. Mereka berperang dijalan Allah, lalu mereka membunuh atau terbunuh. Itu telah menjadi janji yang benar dari Allah di dalam Taurat, Injil dan Al Quran. Dan siapakah yang lebih menepati janjinya selain daripada Allah? Maka bergembiralah dengan jual beli yang telah kamu lakukan itu dan itulah kemenangan yang besar."

Tuesday, August 8, 2023

BERAMAI RAMAI MEMBUNUH KEBENARAN, AGAR BERSAMA -SAMA HIDUP DALAM AIB !

 *BERAMAI RAMAI MEMBUNUH KEBENARAN, AGAR BERSAMA -SAMA HIDUP DALAM AIB !*

Na'uzubillah...


*Oleh:*

Letjen TNI (Purn)

Kiki Syahnakri

(tokoh militer Indonesia).




TENTARA musuh memasuki sebuah desa. Mereka menodai kehormatan seluruh wanita di desa itu, kecuali seorang wanita yang selamat dari penodaan. Dia melawan, membunuh dan kemudian memenggal kepala tentara yang akan menodainya.


Ketika seluruh tentara sudah pergi meninggalkan desa itu, para wanita malang semuanya keluar dengan busana compang-camping, meraung, menangis dan meratap, kecuali satu orang wanita tadi.


Dia keluar dari rumahnya dengan busana rapat dan bersimbah darah sambil menenteng kepala tentara itu dengan tangan kirinya.


Para wanita bertanya: “Bagaimana engkau bisa melakukan hal itu dan selamat dari bencana ini.?”


Ia menjawab: “Bagiku hanya ada satu jalan keluar. Berjuang membela diri atau mati dalam menjaga kehormatan.”


Para wanita mengaguminya, namun kemudian rasa was-was merambat dalam benak mereka. Bagaimana nanti jika para suami menyalahkan mereka gara-gara tahu ada contoh wanita pemberani ini.


Mereka kawatir sang suami akan bertanya, “Mengapa kalian tidak membela diri seperti wanita itu, bukankah lebih baik mati dari pada ternoda..?”


Kekaguman pun berubah menjadi ketakutan yang memuncak. Bawah sadar ketakutan para wanita itu seperti mendapat komando.


Mereka beramai-ramai menyerang wanita pemberani itu dan akhirnya membunuhnya. Ya, membunuh kebenaran agar mereka dapat bertahan hidup dalam aib, dalam kelemahan, dalam fatamorgana bersama.


Beginilah keadaan kita saat ini, orang-orang yang terlanjur rusak. Mereka mencela, mengucilkan, menyerang dan bahkan membunuh eksistensi orang-orang yang masih konsisten menegakkan kebenaran, agar kehidupan mereka tetap terlihat berjalan baik.


Walau sesungguhnya penuh aib, dosa, kepalsuan, pengkhianatan, ketidakberdayaan, dan menuju pada kehancuran yang nyata.


Sebelum terlambat, pastikan berani berpihak kepada KEBENARAN.***


Sumber : 

https://suaramerdeka.id/6457/beramai-ramai-membunuh-kebenaran/